Tuesday, July 27, 2010

SEJARAH SEMAR

SEJARAH SEMAR



Sejarah Semar Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439. Semar di kisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang. Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang diPulau Jawa, pewayangan pundi pergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala. Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya- karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, rajapara dewa.
Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal- usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa. Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyanganpun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yang bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar. Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyanganpun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.
Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculikdan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru. Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya.
Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih,dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberinama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberinama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya bersatu
BataraGuru. Antaga dan Ismaya punturun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.
Silsilah dan Keluarga Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu: Batara Wungkuham Batara Surya Batara Candra Batara Tamburu Batara Siwah Batara Kuwera Batara Yamadipati Batara Kamajaya Batara Mahyanti Batari Darmanastiti Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada ResiManumanasa, leluhur paraPandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah keduanya sehingga berubahke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jalani. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanastren. Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras. Pasangan Panakawan Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar.Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.
Dalam pewayangan Sunda, urut anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalampewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.Bentuk Fisik Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagadraya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Iaberkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan. Keistimewaan Semar Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal.Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua.

SEDULUR PAPAT LIMO PANCER


SEJATINING MENUNGSO
SEDULUR PAPAT LIMO PANCER
Mengenai KALIMOSODO, saya pernah mendengar itu sebenarnya bahasa halus dari KALIMAH SYAHADAT, ini pernah saya baca di buku sejarah pewayangan dan para wali songo. Mengenai DULUR PAPAT KELIMA PANCER, menurut pendapat dan pengalaman saya secara pribadi dan berguryu di daerah jawa timur, itu adalah 4 unsur yaitu API,TANAH,AIR dan ANGIN atau DULUR PAPAT(empat saudara kita) dan ke5 adalah CAHAYA( NUR) atau ROH, jadi secara tubuh adalah sedulur papat dan secara bathin adalah pancer atau roh dengan unsur cahaya.
bahwa Kalimasada sudah ada sebelum kalimah syahadat dengan bahasa Jamus Kalimasada yang selama masa itu dipegang oleh Kiai Semar (menurut kisah pewayangan). Sedangkan Kalimah Syahadat yang dimaksudkan oleh mas Aries adalah suatu cara yang digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyampaikan misi da’wah Islamiyah dimana pada masa itu beliau melihat bahwa dengan pewayangan (hiburan) mungkin mudah untuk bisa mengerti tentang Islam. Dan masing-masing anggota Walisongo mempunyai cara yang berbeda dalam menyampaikan da’wah ini. Dilihat dari urut kisah yang ada, Kalimasada adalah 5 cara yang bisa ditempuh untuk menyembuhkan penyakit hati (iri, dengki, sombong dll) …. Mungkin pada kadang Gantharwa lebih paham mengenai ini. Sedangkan makna ‘Sedulur Papat Kalimo Pancer’ adalah watak/karakter yang dimunculkan dalam kisah pewayangan dimana Kiai Semar sebagai lingkaran cahaya yang kemudian memecah menjadi 3 bagian (4 bagian termasuk Semar). 3 bagian inilah yang digunakan nama : Gareng, Petruk dan Bagong yang untuk selanjutnya disebut ‘Punakawan’ (pembantu, bukan seperti pembantu rumah tangga loch ya … tapi selalu membantu memberikan saran masukan yang bersifat positif kepada Prabu Kreshna) dimana ketiga bagian ini memiliki watak dan karakter yang berbeda-beda tetapi tetap mendukung ‘Kalimo’ nya. Jadi ‘Sedulur Papat’ adalah para Punakawan ini dan yang ke-5 nya adalah diri Prabu Kreshna dimana dalam hakikatnya Prabu Kreshna ini adalah Ruh manusia yang ditiupkan oleh Allah SWT. Sedangkan yang 4 sifat adalah sifat unsur pendukung yang dimasukkan oleh Allah (Air dan tanah adalah bagian dari Lumpur hitam yang bau (2 unsur), unsur Cahaya (penciptaan malaikat) – 1 unsur dan 1 unsur sisanya adalah Api (penciptaan Jin dan Iblis). Jadi keempat unsur inilah yang dilambangkan oleh para Punakawan ini. Oleh karena itu “manusia akan lebih tinggi derajatnya daripada malaikat jika mampu menundukkan hawa nafsunya (unsure API) dan akan lebih rendah daripada Iblis jika hawa nafsunya menguasainya”.
Perjalanan Mencari Yang Haq Ada dua jalan yang ditempuh orang dalam mencari yang haq dengan masing-masing dalilnya : 1. Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu Barang siapa mengenal dirinya maka pasti dia akan kenal Tuhannya. (Dalil ini yang sangat populer dikalangan sufi, meditator , filosof, teolog) 2. Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu Barang siapa yang kenal Tuhannya pasti dia akan kenal dirinya. Pada jalan Pertama, biasanya di lakukan oleh para PENCARI MURNI, mereka belum memiliki panduan tentang tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …yaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan filsafat inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Sebagian meditator atau ahli sufi menggunakan pendekatan filsafat ini dalam mencari Tuhan, yaitu tahapan mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, pikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia bisa membedakan dari mana intuisi itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya… Akan tetapi penggunaan jalur seperti ini sering kali membuat orang mudah tersesat, karena pada tahapan-tahapan wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘kegaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya, … yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai disini, karena kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya …. Karena disana dia bisa melihat fenomena / keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan Kasyaf apa yang tersembunyi pada alam ini … akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahwa dirinyalah yang paling hebat …akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya….. Teori yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, karena dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan / alam), … ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara ringkik kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya ….Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan, … karena terlalu lama di dalam mengidentifikasi alam-alam yang akan di laluinya …. Dalil yang ke dua : adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya …yaitu Yang Maha Dekat, … langkah ini yang paling cepat di tempuh dibanding dalil pertama… Karena dalil pertama banyak dipengaruhi oleh para filosof pada jaman pertengahan dalam hal ini filsafat Yunani. Teologi Kristen dan Hindu telah banyak mempengaruhi filsafat ini. sehingga Al Ghazali gencar mengkritik kaum filosof dengan menulis kitab tentang tidak setujunya dengan ide filsafat masa itu yaitu Tahafut Al Falasifah / kerancuan filsafat …. Al-ghazali membantah pemikiran yang dimulai dengan rangkaian berfikir TERBALIK, … beliau mengajukan gagasan bahwa ummat islam harus memulai pemikirannya dari sumber pangkal ilmu pengetahuan yaitu Tuhan, BUKAN dimulai dari luar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, artinya sangat berbahaya karena di dalam filsafat memulai berfikirnya dari tahapan yang real menuju esensi dibalik semuanya berasal. Sedangkan di dalam Islam menunjukkan keadaan Tuhan serta jalan yang akan di tempuh sudah di tulis dalam Alqur’an agar ummat manusia tidak tersesat oleh rekaan-rekaan pikiran yang belum tentu kebenarannya… Pencarian kita telah di tulis dalam Alqur’an dan Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah …tidak menunjukkan alam-alam yang mengakibatkan menjadi rancu dan bingung … karena alam-alam itu sangat banyak dan kemungkinan menyesatkan kita amat besar… Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya . next
#52
(Dalil ini yang sangat populer dikalangan sufi, meditator , filosof, teolog)
2. Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu Barang siapa yang kenal Tuhannya pasti dia akan kenal dirinya. Pada jalan Pertama, biasanya di lakukan oleh para PENCARI MURNI, mereka belum memiliki panduan tentang tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …yaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan filsafat inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahwa Tuhan itu ada.
Sebagian meditator atau ahli sufi menggunakan pendekatan filsafat ini dalam mencari Tuhan, yaitu tahapan mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, pikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia bisa membedakan dari mana intuisi itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya… Akan tetapi penggunaan jalur seperti ini sering kali membuat orang mudah tersesat, karena pada tahapan-tahapan wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘kegaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya, … yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai disini, karena kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya …. Karena disana dia bisa melihat fenomena / keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan Kasyaf apa yang tersembunyi pada alam ini … akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahwa dirinyalah yang paling hebat …akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya….. Teori yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, karena dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan / alam),
… ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara ringkik kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya ….Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan, … karena terlalu lama di dalam mengidentifikasi alam-alam yang akan di laluinya
…. Dalil yang ke dua : adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya …yaitu Yang Maha Dekat, … langkah ini yang paling cepat di tempuh dibanding dalil pertama… Karena dalil pertama banyak dipengaruhi oleh para filosof pada jaman pertengahan dalam hal ini filsafat Yunani. Teologi Kristen dan Hindu telah banyak mempengaruhi filsafat ini. sehingga Al Ghazali gencar mengkritik kaum filosof dengan menulis kitab tentang tidak setujunya dengan ide filsafat masa itu yaitu Tahafut Al Falasifah / kerancuan filsafat …. Al-ghazali membantah pemikiran yang dimulai dengan rangkaian berfikir TERBALIK, … beliau mengajukan gagasan bahwa ummat islam harus memulai pemikirannya dari sumber pangkal ilmu pengetahuan yaitu Tuhan, BUKAN dimulai dari luar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, artinya sangat berbahaya karena di dalam filsafat memulai berfikirnya dari tahapan yang real menuju esensi dibalik semuanya berasal.
Sedangkan di dalam Islam menunjukkan keadaan Tuhan serta jalan yang akan di tempuh sudah di tulis dalam Alqur’an agar ummat manusia tidak tersesat oleh rekaan-rekaan pikiran yang belum tentu kebenarannya… Pencarian kita telah di tulis dalam Alqur’an dan Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah …tidak menunjukkan alam-alam yang mengakibatkan menjadi rancu dan bingung … karena alam-alam itu sangat banyak dan kemungkinan menyesatkan kita amat besar… Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya . “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku,
#53agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186) “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Al Qaaf: 16)
Ayat-ayat diatas, mengungkapkan keberadaan Allah sebagai wujud yang sangat dekat, dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara utuh. Alqur’an mengungkapkan jawaban secara dimensional dan dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar, dimanakah Allah ? Maka Allah menjawab: Aku ini dekat, kemudian jawaban meningkat sampai kepada, Aku lebih dekat dari urat leher kalian .atau dimana saja kalian menghadap di situ wujud wajah-Ku…dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu …. Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita jika dalam mencari tuhan melalui tahapan terbalik… Pada tahap pertama beliau nampak alam dan segala kejadian adalah satu bersama Allah SWT. dan pada tahap kedua nampak alam sebagai bayangan Allah; dan pada tahap ke tiga beliau nampak Allah SWT adalah berasingan dari pada segala sesuatu di alam ini. Kalau hal ini hanya sebatas penjelasan terstruktur kepada muridnya, saya anggap hal ini tidak menjadi persoalan, … akan tetapi jika tahapan-tahapan ini merupakan METODOLOGI dalam mencari tuhan, … saya kira ini BERBAHAYA, karena yang akan berjalan adalah fikirannya atau gagasannya, … yang akhirnya timbul khayalan atau halusinasi.
Di dalam islam memulainya dengan pengenalan kepada Allah terlebih dahulu yaitu dengan dzikrullah (mengingat Allah), … kemudian kita di perintah langsung mendekati-Nya, karena Allah sudah sangat dekat..tidak perlu anda mencari jauh-jauh melalui alam-alam yang amat luas dan membingungkan ..alam itu sangat banyak dan bertingkat-tingkat. Tidak perlu kita memikirkannya…cukupkan jiwa ini mendekat secara langsung kepada Allah … karena orang yang telah berjumpa alam-alam belum tentu ia tunduk kepada Allah, karena alam disana tidak ada bedanya dengan alam di dunia ini karena semua adalah ciptaan-Nya !! Akan tetapi jika anda memulai dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, maka secara otomatis anda akan diperlihatkan / dipersaksikan kepada kerajaan Tuhan yang amat luas. Maka saya setuju dengan dalil yang KEDUA, barang siapa kenal TUHANNYA (ALLAH SWT)maka dia akan kenal dirinya. Sebab kalau kita kenal dengan pencipta-Nya, maka kita akan kenal dengan keadaan diri kita dan alam-alam dibawahnya, karena semua berada dalam genggaman-Nya…karena Dia meliputi segala sesuatu …karena Dia ada dimana saja kita ada, … dan Dia sangat dekat. dan bagi yang tidak kenal Alqur’an akan mudah sekali berhenti dan tersesat kepada alam-alam itu …karena intuisi itu amat banyak yang muncul dari segala suara alam-alam tersebut (Kesimpulan (buat my best Friend Josie Boleh Dong Kalo Saya Menyimpulkan, tapi jangan Diketawain ya: Islam mengajarkan didalam mencari tuhan, telah diberi jalan yang termudah dengan dalil barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya … hal ini telah ditunjukkan oleh Allah bahwa Allah itu sangat dekat, … atau dengan dalil …barang siapa yang sungguh-sungguh datang kepada Kami, pasti kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami… (QS: Al ankabut: 69 ) “Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeda).” (QS : Al Anfaal: 29) Ayat-ayat ini membuktikan di dalam mendekatkan diri kepada Allah tidak perlu lagi melalui proses pencarian atau menelusuri jalan-jalan yang di temukan oleh kaum filsafat atau ahli spiritual di luar islam, … karena mereka di dalam perjalanannya harus melalui tahapan-tahapan alam-alam … Islam di dalam menemuhi Tuhannya harus mampu memfanakan alam-alam selain Allah dengan konsep laa ilaha illallah … laa syai’un illallah … laa haula wala quwwata illa billah … tidak ada ilah kecuali Allah … tidak ada sesuatu (termasuk alam-alam) kecuali Allah, … tidak ada daya dan upaya kecuali kekuatan Allah semata
#54….maka berjalanlah atau melangkahlah kepada yang paling dekat dari kita terlebih dahulu bukan melangkah dari yang paling jauh dari diri kita ….
#55
Tentang Sedulur Papat kalimo pancer, merupakan ilustrasi dari pemahaman terhadap hubungan komponen diri terhadap Tuhan. sengaja diciptakan untuk memberi deskripsi tentang perjalanan ruhani manusia mencari Sang Maha Ada. hal tersebut bukan sekedar kita maknai saja pada tataran pemahaman istilah tetapi benar-benar harus kita dapati dan temukan jalan Mengenal Tuhan, agar bisa mengenal Tuhan.
Dari jaman dahulu kala manusia terus-menerus mendiskusikan tentang ketuhanan. Kenapa harus begitu? Tuhan tidak dapat dijangkau dengan akal. Jalani saja Agama Islam kita secara benar, mulai dari tataran Syariat, Tarikat tuk menuju Hakikat sampai Marifat. kalo ada keraguan ya cari saja sumber2 yg valid yang mutabarah..sholat istikharah jika perlu dilakukan setiap hari bada maghrib (maaf ini teknis) dan harus ada pada rel Iman, Islam, dan Ikhsan bagaimana caranya..Ya cari Ulama2 yang kredible terhadap ilmu ini, cari ilmu kepada Beliau..banyak kok kalo kita niat mencari, kalo sekedar hanya berteori ya selesai sampe pada kontepelasi..hehe (bukan nyalahin diskusi tapi tolong gali, ngaji diri, ngaji laku) buktikan sendiri apa sih sedulur papat kelima pancer itu. kalo dah tau pasti diem, ngglenggem dan mawas diri
#56
Pada Kidung dari Mas Adi, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari – ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi. Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati)! Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua).
Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan lahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni).
Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’
#57
Pada “Kekayon” wayang kulit yang lumrah disebut “Gunungan” ada gambar Macan, Banteng, Monyet dan Burung Merak. Semua itu merupakan perwujudan Saudara Empat yang ada pada manusia.
Keempat hewan itu melambangkan empat macam nafsu yaitu: Macan melambangkan nafsu Amarah,
Banteng melambangkan nafsu Supiyah,
Monyet melambangkan nafsu Aluamah,
dan Burung Merak melambangkan nafsu Mutmainah SEDULUR PAPAT LIMA PANCER (Saudara Empat Lima Pusat) Mengambil dari Kitab Kidungan Purwajati tulisannya dimulai dari lagu Dhandanggula yang bunyinya sebagai berikut:
''Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang''.
Pada lagu diatas, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari – ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi. Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati)! Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua). Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan ahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni). Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’ Keempat nafsu yang digambarkan oleh ke empat hewan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Amarah : Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah saja, tentu akan selalu merasa ingin menang sendiri dan selalu ribut/ bertengkar dan akhirnya akan kehilangan
kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Supiyah / Keindahan : Manusia itu umumnya senang dengan hal hal yang bersifat keindahan misalnya wanita (asmara). Maka dari itu manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/ berahi diibaratkan bisa membakar dunia.
Aluamah / Serakah : Manusia itu pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Maka dari itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan manusia bisa merasa ingin hidup makmur sampai tujuh turunan.
Mutmainah / Keutamaan : Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik. Contohnya: memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga kita sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik. Maka dari itu, saudara empat harus diawasi dan diatur agar jangan sampai ngelantur. Manusia diuji agar jangan sampai kalah dengan keempat saudaranya yang lain, yaitu harus selalu menang atas mereka sehingga bisa mengatasinya. Kalau Manusia bisa dikalahkan oleh saudara empat ini, berarti hancurlah dunianya. Sebagai Pusat, manusia harus bisa menjadi pengawas dan menjadi patokan.
TOGING ANGGA, TANGGAP TANGGON TETUNGGU TAN TEGA TINGGAL HYANG TUNGGAL” artinya kurang lebih begini : TOGING ANGGA berarti sampainya perjalanan diri manusia TANGGAP berarti mengetahui, memahami, mengerti, TANGGON berarti pandai menyikapi tentang sesuatu hal yang diketahui TETUNGGU berarti menanti, menunggu TAN TEGA berarti tidak tega, tidak sampai hati TINGGAL berarti meninggalkan HYANG TUNGGAL berarti Sang Hyang Maha Tunggal / Gusti mungkin ada sanak kadang yang lebih paham ?? monggo
Tentang Sedulur Papat Kalima Pancer yang diruwat agar menjadi sempurna. Dicuplik dari cerita Wayang dalam Lakon Wahyu Makutha Rama. Pocapan / Jalan Cerita : Lah ing kana ta wau lagya mentar saking ngarsaning Raden Janaka; para repat panakawan catur, kantun sang apekik ingkang maksih mempeng muja samadhi mring Gusti kang akarya jagad, nedhengira sang Raden Permadi mesu brata kadadak rinubung para kadhange Begawan Kunta Wibisana sampun konus saking hangganing sang Begawan, dadya wudhar semedine sang apekik. Wawan Sabda / Percakapan :
KALA RANU : Hong tete Dewa rudra manik raja Dewaku, hanyah-hanyah para kadang, apa iki satriya ingkang bisa ngruwat sukertane dhewe.
KALA BANTALA : He, he, he, mbok menawa ora ana loro satriya ing jagad iki, ndak kira ya mung iki kang bakal nulungi awake dhewe sakadang.
KALA MARUTA : Saka pandugaku ya mung satriya iki kang bangkit ngruwat marang nirmalane dhewe,
KALA DAHANA : We lha dalah pancen ora sisp kakang Wibisana anggone paring pituduh marang awake dhewe, katitik satriya iki cahyane sumunu.
KALA RANU : Yen kaya mangkono ndak takonane dhisik sapa kekasihe satriya iki.
KALA BANTALA : Mangsa borong adhi.
KALA RANU : Teja-teja sulaksana, tejane wong kang anyar katon ngarep kang sinedya tigas kawuryanmu gus.
RADEN JANAKA : Raseksa yenta sira takon lawa aku, Raden Janaka kang dadi kekasihku, mbalik genti pitakon sapa kang dadi aranmu yaksa ?
KALA RANU : Raden bilih paduka mundhut priksa Kala Ranu ingkang dados nami kula.
RADEN JANAKA : Lha sing ana mburimu iku apa jenenge ?
KALA BANTALA : He, he, menawi paduka raden mundhut priksa dhateng nami kula Diyta Kala Bantala.
KALA MARUTA : He, he lha dalah menawi paduka Raden tatanya dhateng kula Kala Maruta ingkang dados nami kula Raden.
KALA DAHANA : We lha dalah, Kula Dahana menika nami kula Raden.
RADEN JANAKA : Ya jagad Dewa Bathara, lagi iki penjenenganingsun hanguningani ana raseksa padha katon alus solah bawane, heh raseksa banjur apa kang dadi sedyamu, dene sira padha mrepegi anggonku lagi mangsah yoga brata.
KALA RANU : Kula nuwun inggih raden estunipun kula sakadang menika, awit saking pitedhaipun Begawan Kunta Wibisana kinen nyuwun sanjata pitulung dhateng paduka Raden Janaka.
RADEN JANAKA : Mbanjur sira sakadang lagi nandhang pepeteng apa ?
KALA RANU : Waleh-waleh punapa raden keparenga paduka kersa angruwat dhateng nirmala kula sakadang, kanthi mekaten supados saged wangsul dhateng asal kamulan kula raden.
RADEN JANAKA : Raseksa aja ndadekake cuwaning atimu, sedyamu kang kaya mangkono ingsun ora bisa nuruti karepira.
KALA MARUTA : He, he, lha dalah Raden Janaka mbok inggiha keparenga welas dhateng kula sakadang raden, inggih namung paduka ingkang kula raos saged ngruwat dhateng sukertaning panandhang kula sakadang raden.
KALA BANTALA : Ho, ho, lha dalah oh inggih lajeng dhateng sinten malih kula sakadang saged uwal saking nirmala kula, menawi mboten saking paduka Raden Janaka. Awit inggih namung paduka satriya dharahing pangruwatan.
RADEN JANAKA : Sepisan maneh raseksa ingsun tan bangkit mituruti sedyanira kabeh.




  • Sunday, July 18, 2010

    SEJATINING MANUNGSO


    SEJATINING MENUNGSO
    LIMA SURYANINGRAT-LIMA PERAGANINGRAT

    1. Puniko adus bathin, adus sukma kang linuwih, adus banyu sejati, adus sinara widi, kurungan mas pudhang sajeroning tingal, byar padhang terusing cahya maknapat, apadhang cahyane Allah, Allah amachak, SullAllahu Allaihi Wasallam.

    2. Puniko wuwulu bathin, wulune sukma kang linuwih, awulu banyu sejati panancanging Allah, nyatane Muhammad, tegese Rasullullah, Allahu amachak, dunyo akherat urip, SullAllahu Allaihi Wasallam.

    3. Puniko shalat bathin, shalate sukma kang linuwih, shalate sampurna sajati, Allahu Datullahi, eningku dadi shalat, usiku dadi puji, terus Donyo rawuh Akherat, Allahu amachak, iya ingsun kanga ran purbaning Agomo, ing akherat, SullAllahu Allaihi Wasallam.

    4. Puniko Dhikir bathin, Dhikire sukma kang linuwih, Dhikire Walahuiman yahu, SullAllahu yamarahu, Datullahi, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    5. Puniko sahadat Bathin, sahadate sukma kang linuwih, Ashaduana, cupumas, isi rasa, rasa saking sejati, penandenging Allah, nyatani Muhammad, tegese Rasullullah, iya ingsun kanga ran sukma mulya sejati, ing akherat sejati.

    6. Puniko Wusiate Sunan Ngampel dento, rame-rame satekoku, Dath ing Ngeng saulihku, ajale banyu putih, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    7. Puniko Wusiate Sunan Bonang, Sang puji rat putih, Dat les tanpa tulisan, lamun padhang ora paran-paran.

    8. Puniko Wusiate Sunan Giri Kedhaton, Nur cohyo putih, datang tanpa tulisan, aningali cahya kang den tingali, cahya Nur cahya putih, muliho ajale banyu putih, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    9. Puniko Wusiate Sunan Kudus, sukma mulya putih, apa kang sira tunggu iku jenenging kuto uwit putih, keneng menyang leburing dosa ningsun sawidak tahun, lebur ngelmu sejati, Ya Walimu Rochmatullahi, SullAllahu Allaihi wasallam.

    10 .Puniko Wusiate Sunan Geseng, witing ora mulih marang ora, SullAllahu Allahi Sallam.

    11. Puniko Wusiate Sunan Gunung Jati, Allah delamakanku, sedheku Datullahi ing dhodoku, Ismullah sawetuku, urip pangucapku, lungguh ing kencana, den awus den patitis, panjing wetuning sukma ametu saking margo urip, ametu saking kurungan kencana, tan ana kerasa, soya wisesa jaleg, tekane paran-paran, ananingsun dewe, tangkep sanaku kabeh, iya ingsun kang ngedhaton ing suwargo ing akherat sejati, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    12. Puniko Wusiate Kanjeng Rasullullah, Sullulluhu ngalaihi Wasallam, Dat kuwusa, Dat les sukma mulya putih, mulih menyang ajale banyu putih, iya ingsun kang jumeneng Prabune ing akhirat sejati, SullAllahu Ngalaihi Wasallam.

    13. Puniko kaweruh tutur kang rumuhun, tedak saking Pangeran Palembang, tutur bab sekarat, tebela buntet, mor tanpa dedolan, sidik sampurna sukma jati wisesa, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    14. Puniko kaweruh tedhak saking Pangeran Prawata, kang runuhun tutur bab sekarat manik putih satengahing ati, gedhere sapucuking angandaro mur, tanpa katingalan, sidik sampurna, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    15. Puniko kaweruh tedhak saking Pangeran Juru kang rumuhun, tutur bab sekarat, segara madu surup satengahing geni, korimah hodi, liyep mulya Maha suci, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    16. Puniko kaweruh tedhak saking Pangeran Giri, kurungan Mas saking raga ancik-ancik sapucuking awang-awang, selo ing royat, lungguh ing wulan, angurungi lintang, iya iku kang rumeksa, kang dumadi iku kabeh, Dat jating ing ayunan, tamat.

    17. Puniko kaweruh ngelmu bathin saking pangandikane Pangeran Giri kedhaton, ngelmu kang ginawa mati, iku loh ngelmune gedhong sukma tutup sukma, purba wasesa, liyep ing Datulah, eling tawakal, maningal ananing Allahku, IllAllahu, LaillahaillAllahu.

    18. Ikilah ngelmu kang ginawa mati malih, Ashadu iman Bumi, langit tanpa dammar, Allah ora tinemu, anging ananingsun dewe, SullAllahu Ngalaihi Wasallam.

    19. Puniko ngaweruhanane ngelmu tedhak saking Pangeran Ngampeldento, ingkang winejangaken bab ngelmu chak, ing patitis sing patekah, tegese patekah iku sarira, aja khandeg ing lapel lan maknane kewala den teka ing jatine, aja kasamaran ing tingaliro, utawi BIS iku tegese embun-bunanku, tegese MIL iku rahsaning Allah, tegese ALHAMDU iku urip tan kena ing pati, iku tegese LILLAHI iku cahyaku, tegese ROBI iku cahya wudelku, tegese NGALAMIN iku napasku, tegese ROHMAN, ROHIM iku limpaku, tegese MALIKI iku dhodhoku, tegese YAUMIDDIN iku jejantungku, tegese IYAKA iku kerana susuku, tegese NAKBUDU iku wetengku, tegese IYA KANASTAQIN iku bauku, tegese IHDINA iku pangucapku, tegese SIRATOL iku lak-lakan pepatil ing ilatku, tegese MUSTAKIM iku ula-ulaku, tegese SIRATOLADINA iku kaketeku, tegese AN NGANTA iku Budiku, tegese NGALAIHIM iku wentiaku, tegese WALLA iku suworoku, tegese LALIH iku puruku, tegese AMIN iku wujud sira metu saking pancering pucuking atiku, tamat.

    20. Puniko PANETEP PANATAGAMA, wonten anenggih PANATA GAMA IMAN TOUHIT aminta besuk paman slamet, metu teko ngendi, metu saking dino kakalih, apa tegese dino kekalih, rahino lan wengi, apa gegoworiro, adhep lan apa pangiringiro karep, lan apa gandersaniro pangandiko, lan apa umbul-umbuliro pangandiko, lan apa braise sarto pagaweyaniro, abener lan sira wis arabi, sampun, lan sapa waline, Waliyullah, lan sapa sing ngiring sira, Nabiyullah, lan sira tarimai ing apa, kawula trimo baka, alinggih punapa, alinggih panata Gama, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    21. Puniko panutup Nabi, paneteb panoto Gomo, jimat panarima, balung, nyawa, linggih rara alat., linggih ingasoken Islam, iya Datumparlamlillahi Ta’alla, Allahu Akbar, iya iku leh urip ana ing dalem Dunyo, lapale kang oleh jeneng Manungsa.

    22. Utawi waktu subuh iku lungguhe ing Sirrullah., metu saking embun-bunan rupane abang lintange kamar, Nabine Nabi Adam, Malaikate Ruchani, sekabato arun, Rohi,-Rohilapi, idere kang wektu subuh maring ngendi, maring sulbi.

    23. Utawi waktu Luhur iku makame ana ing uteg, rupane putih, lintange Samsu, Nabine Nabi Ibrahim, iya iku tangine lintang johar, Malaikate Jabarail, sekabate Abubakar, Rohe Roh Sultani, nepsune Mutmainah, idere kang wektu Luhur, iku maring ngendi maring pusar.

    24. Utawi wektu ngasar iku makame ana ing gulu ing ring karo, metu ankir king pundit, metu saking grana karo, rupane kuning, lintange Mustari, Nabine Nabi Nuh, Malaikate Mikail, sekabate Ngumar, Rohe Roh nabati, nepsune Lumawah, idere wektu ngasar, iku maring endi, maring jasat.

    25. Utawi wektu Maghrib, iku makame ana ing ati, rupane ijo, metu saking endi, metu saking Sirullah, iya iku lungguhe nyawa kabeh, medal saking urip, Nabine Nabi Ngisa, Malaikate Ngisrapil, sakabate Ngusman, Rohe Roh Rohani, nepsune Supiah, lintange Manikem.

    26. Utawi wektu Ngisa iku, ireng rupane, tegese dinadekaken saking ora dadi ana, dene tan polah anane, ingaranan wektu Ngisa, lungguhe ara ula-ula, lintange johar, Nabine Nabi Musa, Malaikate Ngijrail, sakabate Ngali, Rohe Roh nepsani, Neptune tina Roh, idere wektu Ngisa, iku ana ngendi, maring uteg Kambual.

    27. Ikilah nyatakaken lapel, Allah kang den panjingaken Shalat limang wektu, mangka iki, lah rupane Allah makripat, Hi, tegese ngaweruhi, ALIP iku tegese sarengat, tegese barang panggawe olo lan becik iku sarak arane, LAH awal iku tegese tarekat, tegese kang den tunggalaken, utawi Alah lungguh ing Shalat, Shalat iku aksarane LAM,AKHIR, utawi Ruku iku aksarane LAM, AWAL utawi ngadeg ing Shalat iku akeh arane ALIP, tamat.

    28. Ikilah Bab nyatakaken aksarane wektu limang prakara, kang dhihin ALIP, lan kapindo LAH, lan katelu ACHE, lan kaping pat MIM, lan kaping limo DAL, mangka aksarane lelimo iku kinumpulaken dadi lapel, ALHAMDU, ikilah rupane dadine, wektu subuh iku rong rekangat, aksarane ALIP utawi wektu Subuh iku patang rekangat, aksarane LAM, utawi Ngasar iku patang rekangat, aksarane ACHE, utawi wektu Maghrib iku telung rekangat, aksarane MIM, utawi wektu Ngisa iku patang rekangat aksarane DAL.

    29. Ikilah nyatakaken rupane wektu limang prekara, Nabine lan Malaikate, lan sekabate, lan nepsune, lan lintange, mangka wajib angaweruhi, sakehing Manungsa iku amrih esah Shalate, esahe Shalat lamun ginawe jawaban, iku lah babare, SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    30. Puniko ngelmu rahsa, kaweruhana denira setuhune arane Sahadat carem kalimah sejati, sahadat panagihe kawula lan Gusti, tepunge baden kalawan nyawa, Allah kelawan Muhammad, Alip careme si Ehe, tetesi rahsa, Dat kumpule rahsa, LAM, samara, ILLAHU rupane, ILALLAHU nyatane, SAHADUILLA careme, Bapa Adam Ibu Hawa, jejuluk Muhammad, bathine Rasull, lahire Manungsa lamun durung weruh asal-usule Manungsa lan kalimah loro, tanpa dadi kanthi kenthel idune, Shalat sak ngumure, ……sailhing banyu, malehua ing geni, dikanthi geseng lesane, numbula ing langit, amblesa ing Bumi Shap pitu, yen durung weruh asal-usule kalimah loro iku mekso kupu…..lamun weruh iya iku sejatine Mukmin, luwih sampurna elinge, ingkang dhihin timbule kang kari kanga ran jenenge kawula, iya iku kang luwih sejatine Mukmin.

    31. Lintang Johar kang sipate cahya, Nurbuat, kalam kang sipat Wali, dubur kang sipat Kitab, sirah kang bangsa ati, kang sipat sukma sejati, jejantung kang anduweni sipat Rasull, lelimpa kang sipat Muhammad, pepusuh kang sipat Maha Suci, jaringan kang sipat sukma, pangrasa, pangucap, kang sipat Allah, pangambu kang sipat Rasull, pangrungu kang sipat Muhammad, paningal kang sipat Rasullullah, embun-bunan kang sipat Nabi, awak jasmani kang sipat mangani, Bis kang sipat Ngali, Otot kang sipat Ngusman, bebalung kang sipat Muhammad, sungsum kang sipat Asma Allah, Jabarail, Mikail, Ngisrapil, Ngijrail, Nabi, Wali, Mukmin kawula, sujud, ruku, lungguh, ngadeg, pangucap, pangambu, pangrasa, paningal, lumawah, amarah, supiyah, mutmainah.

    32. Puniko Sahadat tanpa Ashadu, Kanjeng Sri sukma ginawa mati, kurungan mas ilange tanpa karana, karen sari muliha bur ing pasucian.

    33. Puniko Sahadat sekarat, pelayaran nafas, pran nyawa, Yaa Hu Allah.

    34. Puniko Sahadat jati, embunan Rohilapi, ….mulya jati, Date les ora ana kerasa.

    35. Puniko Sahadat urip, mumpung urip matio sawuse Sahadat, jenening pati, mutabir pujining pati,….yeng tangine sukma maceliko lungo mulya.

    36. Puniko Sahadat Rohing baden, Sahadat Rohing nyawa, Sahadat panglebur dosa, ingsun aningali siksa, kapitu sun panah, ing makripatullah, ajur dadi suwargo kabeh, teteg wegeng uripi, wanon sawening, lungguhing daging, ati,,,buwata jati, sang wening lungguh ing ati selane engen-engen manik, sir rasa diubeng geleng, sira obah ana jati, wungkule Pangeran iya iku napas talining urip, kik iya iku solahing Pangeran, Datullah, Sipatullah, angancik Bumi kancing Dat, chetike illa Muhammad, tan kocoo iya ingsun Muhammad, sahi ngimron arane banyu dadi suci, iline banyu Dat kumala, sirane banyu mulya jati, tugeng wusesa, sampurnane banyu, ananiro ananingsun, uripiro uripingsun, banyu aja sira takon, Huk, Wus, pinasthi dadi kemilikan ingsun, lahir bathin atas pangandikane Allah.

    37. Niatingsun ados, angedusi baden chayun,……toya robani, dus lali dus wani, baden adus didusi podo baden, Roh adus didusi podo Roh, sukma adus didusi podo sukma, ngalam Dat urip tan kena kawoworan, urip sajeroning karso, ingsun adus saking banyu Kodratullah, byur jobo suci jero wening, baden robani, Allahu Akbar SullAllahu ngalaihi Wasallam.

    38. Puniko den kaweruhana ngelmu ghaib, kang saliro Bumi, wilados unyeng-unyengan aku, kursi rambutku, batukku dedalaning neraka, cangkemku dedalane suwargo, alisku kiwo maghrib arane,, alisku tengen masrig, suryo kembar arane moto, ara-ara tarwiyab arane kuping, gunung tursina arane irungku, telaga kalkaosar arane pipi, ketebig lambe nduwur, sarepil arane, lambe ngisor sela matangkep, awot ogal-agil arane ilat, dinding jalal arane tangan, baliga arane dhodo, lintang kembar arane susu, Allah arane puser, segara rante arane ula-ula, traju jusna arane bebokong, pusakane ngarno tugu kalih arane pupu, sapi gumarang arane dedengkul, kusis kursi arane kempol, telik jati arane enthik-enthikan, Sullalahu ngalaihi Wasallam.

    39. Penganten sira wong ngendi, tiyang lembut anyar dateng kulo, dating ngendi omahiro, tengahan, sira manut ing sapa, manut ing mukmin lanang mukmin wadon, Islam lanang Islam wadon, sira idep bapakane, Bapakira inggih wuninga, Ratu Ageng saking Kodratul Bapakira inggih wuninga, Ratu Ageng saking Kodratullah, sira idep kakekne, kakekira inggih wuninga, Ratu Ageng saking Widayatullah, sira idep Ibunira, inggih uninga, Nyai Ageng Hartati, lar ngendi Pangeranira, inggih panjenengan Dalem, Gusti ingkang mbabar, ing Mekah ingkang lenggah ing destar ngandape cemara putih, kang jumeneng sewidak tahun langkung tigang warsa, ingkang sumare ing Madinah, SullAllahu ngalaihi Wasallam, Awabuda bikukmi IllAllahu, ingsun kang anduweni kelawan Dat, kelawan pakan, kiwa qiyu ibnu Ngabdullah, kang putra Ngabdulah, kang putu Dulmuntalib, kang buyut……kang wayah ngabdulmanab, kang Eyang Gusti Rasull, ingkang lenggah ing Mekah, sinare ing Madinah.

    40. BismillahiRohmanirRohim, puniko kitab makripatullbatin, binasakaken jawa, mulane binasakaken jawa ora wenang kejem ber pisah-pisah karana ngelmu iku kekabeh, pilih pandhita ingkang uninga, utawi sarate angulati ing Alam iku patang prakara, kang karihin arep kabuki ing Alam nasut, tegese sarengat, sarta lakune, utawi anapun lakune sarengat iku, Shalat, siyam ing wulan Ramadhan, Zakat, pitrah, lan Haji, lan anganggo ingkang sarwa suci, lan mangan ingkang Halal, lan sakehe ingkang kecap ing ngelmu pekih, iku lakune sarengat, lan ora weweh ing liyan, lamun durung cukup ing deweke dewek, lamun den gitik dening wong omales, mangka alenggah ing ngalam nasut.

    41. Utawi sarate kang kapindo, iku arep kabuka ing ngalam jabarut, tegese tarekat, lan netepi ing mangan, ing lakune kang karihin, awuwuh lakune tarekat, iku amangan ing deweke dewek, lan aweweh ing liyan, lan sakehe kang kocap, ing ngelmu tarekat, lamun den gitik,.dening wong suka tur ora males, mangka alenggah ing ngalam Jabarut.

    42. Utawi anapun sarate kang kaping tigo, iku arep kabuka ing ngalam malakut, tegese Hakekat, mangka anetepi ing lakune karana kang karihin, lan wuwuh seru malih, ing lakune ing liyan, lamun den gitik dening wong suka tur ora amales, mangka alenggah ing ngalam malakut.

    43. Utawi anapun sarate kang kaping pat, iku arep kabuka ing ngalam laut, tegese makripat, mangka maksih anetepi lakune kang karihin, mangka wuwuh seru malih lakune kang dhihin, mangka ora ora mangan ing dewek, lan aweh ing liyan, lamun den gitik dening wong iku suka tur aweh opah, mangka alenggah ing ngalam Laut, utawi sawune mengkana iku, mangka angwikanana ing ananing Nur, mangka Nur iku gumantung ana ing ngarab, mangka ingaranan kandillullahi, lan ingaranan lintang betal makmur, mangka kinarsakaken dening Allah Ta’alla, ing turune, mangka Bapa iku akarep ma…marang biyung, mangka karep karanane, iku karep ingsun, mangka tumurun Nur iku, merak maring balunging gigir, ingaranan sulbiyah, mangka tumurun ana ing ati, mangka ingaranan Sirullah, tumutun ana ing kalam, birahi, ingaranan nukat Ghaib, iku jenenge Adam sarpin, mani, mangka nuri iku angering, sakehe sela, wahyu, iya iku mani lan Wali, madi, mangka tumurun apapan ingaranan nutsah, ingaranan jelmo awal, iku jirim arane, lan ingaranan soca kumala, manikem, iku patemaning rahsa kekalih ingaranan telaga kalkausar, catur lan dijama iku, tegese sembah iku jenenge niat, istijat, pina….jinabat sinara wedi, mangka ingaranan wulu, mangka johar iku ……dening Allah Ta’alla, yen dadiya bedah, lan pinasti lanang wadon, utowo dawa cendake ngumure, olo lan becik, duraka ageng alite, utowo pakir miskin, utowo durjana, lan arane iku, pinasti sakabehe, ora nana keliwatan sawiji-wiji, iya iku jenenging Iman sadrah, tegese iku angarah kersane Alah Ta’alla mangka ingaken paenan, dening Allah Ta;alla, Allah Ta’alla nyata, ing jerone ing paenan awewayangan, tegese wewayangan Rohilapi, mangka ingaranan ngalam sabir, wektu iku dino rek dadi Alip, mangka Alip iku mangu-mangune kang Alip iku, dene sarwo urung-urunge kang Alip, iku-iku tanpa nektu, lan tanpa jabar, tanpa jir, tanpa enis, iya iku jeneng niyat, lan Takbiratul ikhram, mangka ingaranan wayah, iku Ushali Shalat daim jenenge sujud, tanggal jinaten dening Allah Ta’alla, Dat kelawan sipat, warnone putih, tur abang, jenenging Adam mukinah, mangka ingaranan maklumah, wektune Subuh, rengkangate loro, atuduh Roh lan jasad, Rohilapi Laut mukid, mangka ingaranan dino Ahad, genep selawe dino, mangka ingaranan Allah, wernone putih, duk medal sawulan iku puwosone, kang ingaran iku Ramadhan, mangka tet kolo jinaten puji iku jenenge patih Patihah, mangka Alip iku jinabar Roh Alip, iku ana pujine anebut Alhamdullillahirobil ngalamin, iku jenenge bigenah, tegese bigenah iku pati, tegese pati iku anduweni Roh, ora kawetu mapan, ana ing gedhong kinuchi, kuncine anduweni puji, tan metu ana ing lisan, mangka ingaranan Alkoh, iku dino isnen, genep sawulan ingaranan Mulkah, wornone rodo abang, asemu ireng, tegese iku getih kempil, mangka Alip iku binusana……..prakara, kang karihin, jinabaran, Rohilapi, lan angajeran kalam birahi, lan ingapesan pakuwusa, iku tegese sekarat, lan iya iku kang ingaranan Zakat pitrah, kang telung prakara, iku sawiji, Roh lan alam, lan Budi, kolake johar awal Nurbuat kang Amoco dungo, iku jenenge Amanat, tegese titipan kang tigang prakara, kang karihin Iman, tauhid, makripat, mangka mulka iku, ingaranan dino seloso, genep rong wulan ingaranan Rasull, wernone abang, duk Mendel kawan wulan, mangka tawab, ingaranan, Haji, kang jeneng kulit, daging, balung, sungsum, mangka Alip iku ririnci, dadi aksara tigang Dasa, aran Alip iku, mata-mata, Ba, uripi, talingan kiwa tengen, Ja, lengen kiwa Cha, lengen tengen Dal, lambung, Re, iga kiwa, Je, iga tengen, Sa, susu kiwa, Sin susu tengen, Sot, inebar kiwa, Lot, inebar tengen, ti, ati lan jantung, kempel, kiwa tengen, Paa, pudhak, wentis kotes, Lam, weteng, Mim, uteg, balung gigir, tumapak susu kiwa, wawu kukulit, Lam Alip, cangkem, Ambyah, gulu, Ya, tapak suku tengen, mangka Rohilapi tumandeng, ruku, mangka ingaranan, hudir, mangka Allah Ta’alla, aksarane sekawan, karihin Alip suldi,, lan kapindo lamtepik, lan ping telu Lam akhir, lan kaping pat, Ehe, mangka iku kumpulaken dadi, Hu, tegese iku uteg, mangka ingaranan ngaras lan kursi, mangka ingaranan Rasull, iku dino rebo, genep satus pat likur dino, ingaranan insan kamil, iku jenenge Ratu Prabu Satmata, tegese, ana netra kekalih,, mangka Allah anjenengaken langit pepitu, iku ana sakduwuring tenggok, kang karihin lulustung, lan kapindo wani, terkanap, lan kaping limo graua kiwa, lan kaping nam talingan karo, lan kaping pitulesan.

    44. Utawi ingkang aran Bumi pepitu ing soring tenggak kang karihin susu tengen, lan kapindo susu kiwa, lan kaping telu wudul, lan kaping pat dakar-utowo parji, lan kaping pitu pupu kiwa, iku jenenging, Ikhtidal, mangka ingaranan Betal mukadas, genep patang wulan iku ing ingaranan dino kemis, genep patang wulan ingaranan Achirad, iku wornone iya tabeng tengen mangka rincik iku dadi batus rong puluh mangka rincik malih, malih dadi sewu, mangka rincik malih dadi saputuse wewilangan, mangka dadi sak Qur-an, mangka genepe ora kurang sak isine jagad, iya iku jenenge Shalat jumengah, iku pakumpulan, ing sak isine jagad kabeh, mangka Allah Ta’alla njenengaken suwargo lan neraka, ing jerone Manungsa, tegese suwargo iku dhodo, sajeroning dhodo iku ati, sajeroning ati iku jantung, sajeroning jantung iku jinem, sajeroning jinem iku sukma, sajeroning sukma iku ISI RAHSA SEJATI, ingsun wiyasi rahsa kang sabenere, iku kanga ran malire, atundha-tundha ing suwargo.

    45. Utawi kang aran neraka iku sak dasaring Bumi sap pitu, tegese neraka iku kang nurut napsu kang olo, ingkang ingaranan wot siratol mustakim iku ilat, kang dhikir iku kang ingaranan Loh makpul, iku Budi kang sejati, kang ingaranan traju iku Budi kang timbang olo kalawan becik, kang ingaranan Aladinah iku dhodo, kang ingaranan.

    46. Gunung ngarpah iku jantung, kang ingaranan mesir, iku wawadah ing rahsa kekalih, mangka Allah Ta’alla andadekaken ing jeroning Manungsa, sawiji sarengat, lan kapindo tarekat, lan kaping telu Hakekat, lan kaping pat makripat, tegese sarengat iku kulit, tegese tarekat, iku daging, tegese Hakekat iku balung, tegese makripat iku sungsum, maniko Allah Ta’alla iku andadekaken wektu lelimo, kang karihin wektu subuh jenenge rekaat, kalih , utawi subuh kang kaping kalih lan sipat wujud, rabine adam weyayangane adam nepsune mutmainah, lan ingaranan sipat kabar, jinulukan Jabarail.

    47. Anapun wektu ngasar patang rekangat, atuduh bau kalih, lan susu kalih, sipate kalam, Nabine Idris, warnane abang, jenenge nepsune amarah, lan ingaranan sipat jamal, jinulukan Mikail.

    48. Anapun wektu Maghrib telung rekangat, atuduh lesan lan gerana, sipate bosar, Nabine Ngisa, warnane ijo, jenenge Neptune supiyah, lan ingaranan sipat jamal, jinulukan Ngijrail.

    49. Anapun wektu Ngisa patang rekangat, atuduh ing kuping kalih, lan netra kalih, sipate kodrat, Nabine Musa warnane ireng, jenenge Neptune luamah, lan jinulukan sipat jamal, jinulukan Israpil.

    50. Utawi ana pundit sinal witri, antarane alis karo sipat, kayun, ngaliman, ngadirun, basirun, muridun, samingun, mutakalimun, bakin.

    51. Ikulah sipate Allah kang tinitipaken ing kawula, mangka bedene sipate kawula iku dining Allah, kelawan ngaral.

    52. Utawi anapun wulan kekalih welas iku atuduh ing sarira, kang karihin lustung, lan grana kalih, lan nitra kalih, lan susu kalih, lan suku kalih.

    53. Utawi kang aran Ka’bahtullah, iku irung, kanga ran serambi iku lati, kanga ran ati Madinah, dhodo, kanga ran kubur Rasullullah iku ing luhuring dhodo, iku ireng-ireng ing netra, iku ingaranan segara Maryam, iku peputihing netra, segara supiyah, kang ingaranan, segara tawa, iku sore ngaras, kang ingaranan segara asin, iku sakehing getih.

    54. Utawi ingkang aran Shalat jumungah, iku sametune sarirane kabeh, kalawan tegese mimbar iku jantung, lan tegese mikrot iku sarirane anapun kang ambawa iku nurbuat, utawi anapun, tegese mesjid iku baden, utawi anapun pujine napas iku lamun metu, Hu, pujine lamun manjing YAHHU, pujine iya iku aran ayat.

    55. Utawi ingkang aran Qur-an telung puluh Juz iku tegese baden kabeh.

    56. Utawi anapun jenenge sekawan ing masjid, iku tittipan kang sekawan, sawiji pangulu, tegese uripe, lan kapindo ketip, tegese pujine, lan kaping telu modin, tegese nepsune, lan kaping pat, merabot, tegese budine, mangka Achmad iku sujud, ingandap iku jenenge kiram mangka Achmad iku dino jumengah, tegese pakumpulane sak isine jagad kabeh, ora kurange genep, lima ingaranan Muhammad Rasullullah, warnane bunder tur bolong ing tengah, tegese kang umat Muhammad, angideri ngalam kabeh, keratin pawewayangan, tegese Muhammad iya iku Allah Ta’alla sakehe wewayangan kewala, ginawe saumpamane mapan, Muhammad iku ginawe ke.

    57. Utawi anapun Nabi Adam iku abaden jasmani, nyawa Rohani, utawi Nabi Muhammad iku abaden ruhani, anyawa Rohilapi, utawi anapun sakehe poro Nabi satus ewu punjul patliku sewu, iku cahyane Nabi Muhammad, kabeh karana kang Roh poro Nabi, Nabi kabeh asal saking Roh Nabi Muhammad, utawi asal saking Nabi Adam utawi Nabi Muhammad iku genep ora ana kurang sarira, waja sarta rema, sarta kuku, mangka iya iku ingaranan lungguh, ing Shalat lungguh kang akhir, iku jenenge Takhiyat, tegese takhiyat iku genep kabeh, saisine jagad, ora ana kang kurang utawi kang ingaranan lungguh ing netrane sujud roro iku, antaraane langit lan Bumi, utawi anapun kang ingaranan tasbeh iku aden-adene sakehe bebalung, kabeh satus prakara utawi anapun Nabi Muhammad iku tanpa pegat, tinilikan Rohmat dening Allah Ta’alla, nyoto ing wujude, lan date, lan sipate, lan afngale mangka ingaranan Masjidilharam.

    58. Utawi ingkang ingaranan srengone kang ana ing sarira iku netra tengen, lan ingkang aran netra kiwa iku sosi.

    59. Utawi anapun tegese Salawat iku tegese wus nyata Muhammad, iku langgeng ora ana suwunge, mangka tegese sahadat iku tanggal Allah lan kawulane, nyata Allah iku ing jerone paesan, iku jasad, mangka iya iku kang anekseni yen Allah iku maujut, mangka dudu Allah kang nyata, ing jero paesan kewala, wewayangan, tegese wewayangan iku Rohilapi, kang nyata Muhammad.

    60. Utawi bedene Allah lan kawulane iku, mangka Allah iku Khadim, lan kawula iku anyar, ikulah bedene.

    61. Utawi Muhammad iku sampurna jasate, mangka ingaranan dino septu, mangka ingaranan salam, tegese salam kang tengan iku jenenge Rohilapi, lan salam kang kiwa, iku jenenge jasate, mangka wus sampurna dinane lan wulane, mangka sawise medal saking kaluwan jinaten tangis angruwit amiyat lelangse, anjerit kepati, tegese amuji Allahu Akbar.

    62. Lan sarta medharing tangan, mangka sawise, tumeko ngumure sadino sawengi, iku jenenge WaliYullah, sawuse kalunta-lunta kang paningal iku jeneng mukmin, tumeko ing satus dino iku jenenge pikir, bisa mengkurep iku jenenge Pandito, bisa lungguh iku jenenge Ratu, bisa ngucap iku jenenge Cil, bisa lumaku iku jenenge pipa, utawi tuwane Johar, iku ing mangka ingaranan johar Akhir, mangka lamun tumeko ngumure limolas tahun, mangka dewusa, mangka lamun tumeka tingandasa tahun, iya iku tengah nuwuh.

    63. Utawi sakehe wong ngakil balik iku, sami angalampahana pakoning Allah Ta’alla, Ashalat sira ing limang waktu den aja pegat lan siyam ing wulan Ramadhan, lan angalampahana Zakat pitrah, lan munggah Haji, panyipta ngalam nasut, dadi pangrungune, dadi pangambu, dadi pangucap, kang dadi ati ngalam kudus, kang dadi ilat pepusuh ngalam sulbi, kalam, kang dadi cungur, mangka lamun ambekan sun tingali nyawa iku aputih kaya ana tangan sanding, mangka sun anedha mikat nyawa, iku awetu balane nyawa lan ing tiga ingsun anedha mikat tuwan, demi ingsun angandiko si cahya iku wedele, mangka anyawa iku apitekur nyawane kang tengen, nyawa iku anutupi kupinge kang tengen, anutupi kuping kiwa.

    64. Puniko Malaikat pangawikan ngelmu awaling anggeguru kang sampurna, wiyase pamugih sampun sak dhateng pinarima ing ati, puniko wiyasing pati, mapan ora beda ing patikalawan urip, iku kang dhihin padhanging pati, lan kaping pindo petenging pati, lan kaping telu kang ginawa mati, lan kaping pat rowanging pati, lan kaping limo rahsaning pati, lan kaping nem kang pinanggih ing pati, lan kaping pitu paraning pati, lan kaping wolu enggoning pati mangka jawabe, utawi anapun padhanging pati iku sinung awus ing wujutullah, kang sadoyo wisesa, utawi anapun petenging pati iku dene kagenten ing karen wusesaning Datullah, kang langgeng ing keratone utawi anapun rowanging pati iku jinaten dadi nikmating panduluning yen saking kersaning Allah Datullah, anapun kang pinanggih ing pati iku kersaning ingkang purba, iku mulih sadurunge ana, anapun enggone pati iku purbane Datullah, tegese pati iku kang teko jiwo ragane kang tan eling sembah pujine, kang tan eling Pangerane wiyaso dene sampuna sirna Mahluke.

    65. Utawi anapun dununge sembah iya iku maring ora, lan endi bayaning sembah iya iku lamun ora apangeran, lan endi rusaking sembah iya iku lamun ora nyata, kang den sembah, lan endi patining sembah, iya iku kang ora uningaroro, lan endi Ratuning sembah iku, iya iku Rasullullahi, lan endi sukmaning sembah, iya iku metu saking karsa.

    66. Ikilah mas Allah tun, apa kang tinemu ing Dalem Shalat, yen nemua ing Allah, mangka Jabariyah arane, yen ora ana ingkang den temu ing dalem shalat iku, sia-sia shalate, mangka jawabe, kang tinemu ing dalem shalat, iku, adeping sembah, kang sinembahaken dening Allah, maring kiyambakira, wong anembah ing Allah, lan adohe iku kelawan sembah kang awal, iku adoh saking Allah, lan adohe iku kaya wong kapir, saking suwargo, tegese wong anembahan ing Allah, kelawan sembah kang blaka, iku mokal, yen tekoa ing Allah, upamane kaya wong kapir, iku mukal, yen manjingo ing suwargo.

    67. Utawi kerana Nabine wong anembah ing Allah iku kaya wong anulup manuk, kudu arep weruh ing patitising, yen ora weruh ing patitise apa manuk iku ora ana kelawene, kena elare bae, tegese ora kok patitis manuk iku, kaya mengkana wong anembah ing Allah, iku yen ora weruh ing patitise ana kelawan tuna, iya iku amulet ing liyane Allah, lan apa kalane kaliwat, iya iku mulat ing Allah, wus weruha ing patitising panembahan, ing awakira dewek. BISMILLAH HIROHMANIR ROKHIM

    68. Puniko kawikanana denira setuhune ngelmu iku kabeh, pitung puluh pitu, mangka kang pitung puluh loro iku maksih sipat kang setengah krena den arani setengah, dene iku masih ujar kewala, tegese ora tekan kratone Allah Datullah, kerana den arani meksih setengah utawi kang tekan kratone Datullah iya iku mertobat pitu, iku ngelmu kang teko, atuduh maring sadurunge Allah, andadekaken Roh ilapi iku kang den tuduhaken, den ing ngelmu mertobat, ameruhaken wiwitane jagad kabir lan jagad sahir, iku kang den tuduhaken, ing mertobat, dene kenyataan ing Dat, sipat, afngal, asma Allah, utawi kang kariyin, iku ingaranan mertobat, akadiyah, mangka akadiyah iku pitu, prakara kang dhihin akadiyah gaibul guyub arane, iku peteng-apeteng tegese sadurunge ana anebut nama Allah, tegese selagine Dat ingkang, kagungan ingaranan mertobat, akadiyat, mangka akadiyat iku pitu, prakaara kang dhihin akadiyat ghaibul guyub arane, iku peteng-apepeteng kagungan ingaranan ghaibul guyub iku uripe alip, lan akediyat ghaibulah, guyub iku iya uripe ake, apadhang, lan akidat ulu Allah iyah, iya iku dzat sinimpen, luhure luhur, ora nana wikan ing dheweke, iku uripe Dal, Akadiyat uruniah, iku wiwitane Allah Allahi, apa pangaken Dzat, apa ing He, Min, uripe iya Neptune roro, atuduh maring Dzat lan sipat, lan akadiyah iya iku uripe Allah, anyatakaken rahsa bathin lan rahsa lahir, kang ana Muhammad lan Muhammadiyah utawi iku kabeh Lacahya ajali abadi, lan iya iku kabeh durung ana Roh ilapi, pan durung ana iku ora kena winicoro mertabat iku, marmane den arani Lacahya, lan kapindo mertabat ingaranan keket, tegese Muhammad, lan ingaranan wujud, lan ingaranan neptu Ghaib, lan ingaranan maklum, ingaranan ngelmu padhang, iku mertabat Dzat ingaranan chayun awal, ingaranan sipat, lan ingaranan abu arwah, tegese bangsa arwah iku dhedhekihing manungsa kabeh, iya iku kenyatakan ing Dzat, sipat, asma, afngal, Allah, lan mertabat ngalam arwah iku iya iku kenyataning Dzat lan enggoning napas, anpas, tanapas, nupus, iya iku ngalam arwah arane, iya iku anyar, ora karima rusak, lan ora karima pandum, lan mertabat ngalam misal, iya iku enggone kantha, warna ambu,, rasa lan ora narima pandum, kang narima rusak, iku kenyataane Dzat, kaping numenggone Roh Nurkalam, ngatal, insal kamil, iku perkumpulane mertabat kabeh, iku nggone suku,bau, gigir,sirah, mulane aran kamil, den upamaken sampurnaning kenyataan, kaya pangandikane Allah, kulu kutu bathin, utawi sakehe kan kang tinulis, kaya pangandikane Allah, ana ing dalem Dalil tafsir, wahum tasimuman kabalahu tegese reksanen denira kelawan tetaline Allah, tegese sungguhing manungsa napas, anpas, tanapas nutus utawi napas iku taline jisim, anpas taline anpas tanapas taline Roh nupus taline rahsa, basa napas iku angin kang blaka, pujine Laaillaha, lan basa anpas iku angin kang manjing blaka, pujine IllAllahu, basa tanapas iku angin, kang tetep ana ing jisim, pujine Amanehu, nupus iku kang nrambahi ana ing jisim lan Roh, pujine Hu Hu, basa napas iku lungguhe ana ing uteg, napas lungguh ing puser, tanapas lungguhe ana ing jajantung, nupus lungguhe ana ing ati putih, puser iku nyatane sipat Jalal jantung nyatane sipat kahar, ati nyatane sipat jamal, uteg nyatane sipat kamal, iku tuduhe kabeh. BISMILLAHIROHMANIROHIM

    69. Puniko Pangeran ing Kudus ngendiko, dening Pangeran ing Kali Jogo ana ing Masjid Demak ajajar lan Sultan, andiko Pangeran ing Kalijaga ingkang karuhun amejeng ing rahsa purba, ingkang ngandiko pangeran anak pangulu ing Demak, rahsa purba puniko pekeniro, esak ing pekeniro, yakineno ing paningal dipun awus aja aningali roro, jeroning paningal, panasuwung, gerewung ing paningal iku yakineno yen rahsa purba, iku awusing rupa tan estu kerana.

    70. BismilahirahmaniRohim. Puniko wiro osipun ngelmu jati, tankena den ucapno dening wong akeh dening iku ghaib, pamanggihe iku wong aningalai ing Allah, tan kelawan tetebang wus podo, ing rupa kang mulya, kang weruh kang lenggo gening awus rupa jati, iku reke kaya taun ingkang rupa Rasullullah tingkah ing Allah, iya kangjinaten akarep anglairaken Dzatiro, anyataken rupa, mangka nyata rupane Allah, ing Rasullullah sing soro weruh andiko Rasullullah iku weruh rupaning Allah , yen sira tingalana bastu sirik, yen tigalana mata kalbullahi Ta’alla, aningalaken rumiyin pandito paningaling kalbu lamun ora ana pangeran anekatna mapan bener paningale, iku dening ora ana, apan nuju aningolara ing Allah Ta’alla iya anyataken ingkang nyawa Rasullullah , yo Ahmad tingalana rupaningsun tinalanga osikara, osik ingsun, sing sapa weruh ing sira, utawa awus ing wartaniro, aweruh wong iku, weruh ingsun, iya iku kawulaningsun, kang ingsun karepaken menowo ana kawulaningsun, ujar ingsun, aningali lan mata kepala, iya paningalai ingsun, uga kang ningali ing deweke, sun mapan sakusike, ananira ingsun uga mapan ingsun, nyata ing sawiji-wiji, iya iku kamulia ningsun, anadene rupa kamulianingsun ing rupa sawiji-wiji, ora rupa roro, yen ana rupa roro, ana lelawananingsun, mapan sira ora roro lan ingsun, iya tingalana lan ingsun, lan sira ngucapa, wahdahulasyarikAllahu tanggal ingsun lan sira, Dzatan loro, yen ana kawulaningsun sami uningo ingsun, iya iku lan gentayaningsun, tanggal ana niro lan kejatene umatiro, lan yo iku tanggal ing anaingsun, iya iku lan kamulianiro, sira kang ingsun kasihi mapan yuwih sira saking umatiro sedoyo, lan umatiro ora loro lan kawula yektine pengaruh kang utomo.

    71. Puniko sayogyo winejangaken wong kang dereng geguru ing wong, ingkang dereng nggerahito ing ngelmu Rahsa, yen kapiyarso ing wong kekalih, yen tan uningo anapun ora karena pinuju amiyarso kakentan sami nguningani ing titipan, menowo tan kececep ing raos soko iku, lan tarekat sampun amusawerah, lamun ora weruh kang sinembah dening kang uningo kedah kaprabotan selawiring ing kaweruh, kawedengan tan uningo, wite awon wekasane suala iku tak sampun sapejah-pejahe wong amachak lan sampun amuwus warah marang wong kibir, kerana dadi melu kibir wekasan dinendon marang pangeran jan kanduhan iblis ujare ngelmune ilang, istikmale kang kibir kang metu aking sarirane deweke, ing anggene srasihan.

    72. Puniko reke duk Pangeran Kudus ana ing Kalijaga angandika maring pangeran kudus, duk ing ajajar, alenggah kelawan Sultan ing Demak wonten masjid kang rumahun amejang ngelmu Rahsa purba kang bandadekaken pangerang ing Kalijaga, maring Kiayi panghulu ing Demak, rasa purba iku saking panarima, pekeniro dhatan yakin ing paningal den awus aja aningali roro, yen meksih aningali roro, sirik jerone iku, yektine rasa purba iku awus-awusing rupane, ana estune karone ora bastu dening dudu paningale mahluk, puniko teteping paningal, lan den awus rupane, wewayangan iku aja kumalamar, inggih puniko minangko rupa jati, rupa purba, kiyai pangulu sang rupa iya rupane, minagka rupa sabenere, Sultan amiyarsa, ingkang andiko pangeran ing Kalijaga, tinaken ing ngutus Hyang ingsun, dening Sultan adisandi sira amiyarsa denira anging ghaib, kang andiko Jeng Sultan, abebisik, utawi ingsun amiyarsa anging ingsun, maturingsun ing Sultan inggih reke rupajati.

    73. Puniko gentining nyata ing Rasullullah, rasa purba iku reke Rasulullah, demi rupaning nyawa nyata rupaning Allah, ora owah kang rupa suwung, anging rupa kang katingal lan yakin aja takon ing deweke kang andiko Sultan, piro kehe wong kang ana ing surambi, iku aturingsun ing Sultan, nadyan kathata Manungsa kang miyarsa atuwan kang andiko Sultan, adhi sendi pepeten ujar, iku, aja singawenga amiyaran tuwan andhika pangeran Kalijaga, kiyai, pangulu, rasa purba iku puniko tanana kehing sapari polah kerana ora manembah malih, dene nyata kang sinembah, aja kasmaran awusno rupa kang tanana sami-samine, wus nyata rupa pekeniro dewek, pakeniro tingalana rupa pekeniro, sakeh rupa tuwan suwung mangka teko rupa kang tan owah, wahyu jatining aningali ing deweke iku tan ana mata kepala lan moata kalbu, sirna sakehe paningal kang bastu kang suwung, iya iku aningali ing deweke, kang andika Sultan maring kiyai pangulu, inggih puniko reklo nyawa kang ingaranan kanugrahan, andika, kiyai, pangulu abebisik lan Sultan, andika Rasullullah SullAllahu ngalaihi Wasallam. BISMILLAH HIROHMANIR ROHIM.

    74. Puniko reke sami dipun cari angwikani iku tingkahe ngelmu jati, kang sabenere, ingkang amejang Pangeran Kalijaga, lan kiyai Wanakarta, kang oleh kanuragan lan oleh bukane Waliyullah, anapun tinutur malih rupanira kang satiti, nugrahaning pangeran, mangka amejang dhateng kiyai luhung salawuse, mangka winejangaken kang sakang satuhune sira kang tansah anutaken sabdene kang sabenere, sawise winejangaken dhateng kiyai luhunh salawuse, mangka winejangaken dhateng kiayi Winakarta kang oleh kanugrahaning Allah sarta bakate barkate Waliyullah, anapun tinutur malih pamejanging guru lan sihe, kang andiko Pangeran Kalijaga, kiyai selawe.

    75. Puniko pamejang maniro dhateng pakenira puniko poma-poma den kacecep, dene pakeniro, satuhune Allah Ta’alla lan kawulane iku adoh, lsn ireng-ireng netral an peputihinh netra, anapun Dzatullahi lan mahluk iku adoh otote gulu land aging, pepake Allah kelawan sira iku pun mokal makripat, aja meksih etung wusasune pangeran mangka teko wong iku ing kaweruh tanggal, kerana meksih: (1) etung, wusesane pangeran, lan aja kemlamar, lan aja kawimtuhan krana satuhune wimbuh iku meksih aling-aling, durung sampurna kaweruhe wong iku mapan durung nyata, ingaranan lan ingkang aran nyata iku enggone madu, ora liyan ingkang aran madu iku iya manis, iya madu iku ingkang ingaranan kiyambake, ingkang ingaranan iya pangucapira iku Allah, iya iku dudu panguckaping mahluk, krana dene sira mahluke, dadi pangucapiro iku pangucape Allah kang sejati, nyata meksih kapurba, durung sampurna kaweruhe, iya anging sira kang sejatine, kang ora owah langgeng kang purba wusesa, mapan wujud ira iku wujude Allah.

    76. Yangne sira iku nakluke dadi sejatine pangucape, yenta sira dene durung weruh iku durung weruh, iku durung sampurna kaweruhe, iya iku kang sejati kang adoh gingsir, langgeng purba karsa wusesa dadi wujud ira iku, ingaranan Wujudullah, uripira iku uriping Allah, tegese mahluk iku kadi wayang tumrapang kelir sejati, kang kawuningan kelir anging wayang kewala, ingkang ana, ingkang urip, ingkang molah, anapun pinasthi ingkang aran kelir sejati iku iya iku kang katrapan wayang, ora kena anarana kolir sejati, krana suwung ingkang mengkana ana si kelir ingkang katrapan wayang, iku kalangan dening wayang iku krana jamane kelir iku dene katrapan wayang, iya iku amer, anging aran manuke, anapun ingkang durung oleh wejanging guru ingkang sampurna yekti meksi awedi ing ujar iku, krana dene durung anduga pangawusa, meksih katungkul, ing roro, nadyan anggegurua yen kemba-kembayen durung trimo katrimo ing kalbune ingkang suci temahan mesti bingung pangaweruhe wong iku, dene durung weruh ing panarima iku winastaning guru, iku pemawusane den nyata aja owah pangeran denira ngelmu rasa iku den anunggal, wujude wis manunggal tokit arane ran riniwariwa malih sampun kapungkur sakehe sauiskara kabeh, waluya mulih maring jatine, dadi ing papan turune iku dadi pangaweruhe kabeh krana den sampun-sampun atunggal tingale, inggih puniko Shalat arane.

    77. Anapun Shalat limang wektu iku meksi apegat, iya ikut tet kalane wektu Shalat lamun bakda Shalat, kaya perang ing sawate, yen ingkang sampun weruh ing Allah, iku ora kala-kala , ora pegat wektune, kadi tapake toya mili sacakraning gilingan.

    78. Yangne ora pegate Shalat aja sira mijilaken tutukira, ingkang puji sampurnae lagi wulune salembar, iku tanggal kelawan puji kerana satuhune reke Shalate wong ingkang sampurna, tekan iku ora kala-kala wektune kewala, ing turune iku minangka shalate, unine ambakane mijil sumping ambekane iku dadi shalat arane, iku tan pegat amuji ing wujutullah, lan lamun uga sampurna kabuki nyataning kupur, mangka sampurna kaweruhe wong iku, mangka ingerasanane rarasan ingkang ica-ica lan ngguguwa ing ngelmu iku aja esak, aja gerik, aja tasbeh panggrapa lawan lumampah-lumampahe, anging den weruh kalih lan wayang, puniko kathah miyarsa, sampun pakeniro dhewe, iku pepetan menowo aja salah tompone wong ingkang anggeguru iku, meksih kang gawe ngamal, nastiti iku ingkang kalbu ing naraka, weksane manjing suwargo lawan kersane pangeran, anging ingkang sampurna awake ora weruh suwargo naraka kang den temu tanapi ingkang nyata ing Allah iku ora ana uningo suwargo naraka ikuden teksih aneng pengayunane Allah Ta’alla, lan wong iku lamun den kasihi dening Gustine dumadekan amanggih guru ingkang sampurna, dadi tan uninga ing rupa madhus. Dene sampurna nyata ing rupa kang langgeng, ikulah karone kang ora ningali, anging lamun ora aingalana ing liyane tumingal, ing Allah, mapan iku tingale wong ahli Tauhid. Iku tan agenti satingale dadi jumeneng paningal ingkang sejati kewala, mapam kelingan dening mahluke, lan aja sira ngayun-ayun ing suwarga lan neraca, angayun-ayun ing sihing Allah, tanapi tapa ngapura iku oko sira angayun-ayun sapa ingkang ngapura lan sapa ingkang ngapura, mapan wujud tanggal. Wahdahula syarikAllahu jatining genting nunggalaken ing paningal inggih paningal punika reke mutakalim. Wakid arane iku lah sirna tingale mahluk, lamun uga wong iku wijenengaken makripat durung sampurna pangaweruhe, durung manunggal meksih uninga wedine, aja anguningani wedine ing jerone Shalate, yen sampurna sanadyan awediya kaliwat pan durung sampun kaweruhe.

    79. Yangne jerone Shalat iku ora ana atine, aja sih ngegungaken sembah pujine, tan sampurna shalate nadyan ngetung sampurnane shalat pun dereng sampurna, mangka matur kiyai selawuse ing pangeran Kalijaga, kados pundit Kanjeng sejatine Takbiratul Ikhram andadekaken pangeran Kalijaga kiyai salawuse, jeroning Takbiratul Ikhram iku yen durung abaden Allah, iku durung sampurna Takbire. Puniko wangsit ingsun marang sira, poma-poma, eling-elingen den pakeling. BISMILLAH HIRAHMANIR ROKHIM

    80. Utawi sampurna baden iku ingaranan sampurnaning wulu, tegese jobo jero iku Allah.

    81. Utawi sampurna shalat iku kahanane tunggal.

    82. Utawi sampurnane Sahadat kulhu iku jenenge tunggal.

    83. Utawi sampurnane pati iku sekarat rasaning urip.

    84. Sampurnane makripat iku ora angulati iku jenenging anane Datullah.

    85. Sampurnane Istijak iku ora ana kang momori.

    86. Utawi sampurnane junub iku sirna kawula ing wujutullah.

    87. Utawi sampurnane junub iku sapelungguhan sira kelawan Allah, iya iku kabeh ingkang katuju dening wong urip, tan kewetu ing wong akeh, aja pisan-pisan kawetua, tetapi lamun ora mangkone iku, mangka ora weruh wong iku ing Allah, kerana iku angulati ing Allah iku kaya wong angulati angin.

    88. Utawi Apngalullah iku jasad kita.

    89. Utawi Asmaullahi iku napas kita.

    90. Utawi anapun Sipatullah iku Roh kita.

    91. Utawi anapun Datullah iku rahsa kita, tegese enggone aningali Allah Ta’alla.

    92. Puniko mas Allah panglebur dosa, tegese arep milang-milang ing dosane, den kaweruhi ing rahina lan wengi, kathahe sangang puluh papat, tan pegat ing rahia lan wengi, sakehe manungsa iku kaya apa ta yen luputa ing dosa wong iku, anging wong tetelu ingkang luput ing dosane malaekate sawiji Nabi, lan kapindo Wali lan kaping telu mukmin, apa dene kang dadi margane luput ing dosa iku saking patang prekara. Ingkang dhikir Nikmatuldat, lan kaping pindo Nikmatu sipat, lan kaping telu Nikmatu Afngal, lan kaping pat Nikmatu rasa. Lan tegese bangsa nikmatu Dat iku angrasa yen maune.iku arane Allah. Lan teruse nikmatu sipat iku dene angrasa yen sipatira iku sipate Allah, lan tegese bangsa nikmatul Asma iku, dene angrasa yen anira iku arane Allah, lan tegese afngalono nikmatul afngal iku dene angrasa panggawe nira iku panggawene Allah, iya iku araning luput ing dosa, dene tan anguningani ing mahluke nulis pestine iku arane Datullahi, rupane Sipatullahi arane Allah, polahe afngalullah, tegese mangkana iku sapa ingkang anduweni lan sapa ingkang dinusan, mapan kahanan tanggal, tan roro ingkang durung anduga ingkana ingkang meksih angrasa anane mahluke, iya iku ingkang meksih amilang-milang ing dosa, sabab durung oleh wangsite guru ingkang sampurna.

    93. Puniko Mas Allah pundit uriping urip, mangka jawabe, ita iku sembah pijine, iku jatine.

    94. Utawi anapun mertabating Roh iku pitung perkara ingkang dhihin Roh jasmani, iku mulane aran jasmani, dene dadi pakumpulane Roh iku kabeh. Lan kapindo rokhani, mulane ingaranan Rohani dene dadi kasuciyaning Pangeran. Lan kaping telu Rohani, mulane ingaranan Rohani dene dadi kamuharaning Pangeran. Lan kaping pat Roh Ilapi, mulane ingaranan Ilapi dene dadi kenyatakaning Pangeran. Lan kaping limo Roh Robani mulane ingaranan Robani dene dadi panguwusaning pangeran. Lan kaping nem Roh Nurani, mulane ingaranan Nurani dene dadi panguripane Pangeran. Lan kaping pitu Rohkudus mulane ingaranan Kudus mangka iya iku uriping Pangeran.

    95. Puniko mas alatan bab Shalat. Utawi anapun ingkang aran Shalat iku papat: Sawiji Shalat jumungah, tegese Shalat jumungah pakumpulan, tegese Bangsa pakumpulan iku, iya panembahing baden kang tan ana pegat enggone limang waktu, kaya luhur, ngasar, maghrib, lan ngisa, lan subuh. Kaping kalih Shalat Musta, tegese seselitan panembahing ati, kang tan ana pegat, eling kahanane Pangeran. Lan kaping telu iku Shalat Kaji tegese Shalat kang narimo, kaya panembahing Roh kang tanana pegat, madep marang kahanane Pangeran. Lan kaping pat iku Shalat Ismu Ngalim tegese Shalat kang siningkep kaya-kaya panembahing rahsa kang tanana pegat, sumare aningale maring Allah, kaharaning Pangeran. TAMAT.

    96. Puniko nyatakaken warnane pati, kaweruhana denira satuhune pati iku teka ing sira kabeh, kelawan nenem perkarane ingkang dhihin memetu saking awakira, iya cahya kang warna, cahya kaya mega kang putih, ing jerone iku malaikat, panggonane iku luwih kuning, lan jasate iku luwih putih, mangka ngucap rarasane iku kaya para Nabi, mangka aja andulu ing jerone iku.

    97. Lan kapindo metu saking awakira iku, cahya kang warna, cahya iku ijo, lan ana ing jerone iku ula, kayak manuk ingkang luwih putih, lan miber kaya jaran sembrani, mangka ngucap ingsun iki burak mangka aja andulu iku.

    98. Lan kaping telu rupane kayak wong lanang bagus rupane lan arum suwarane, iku kaya gelap lan paningal kaya kilat, metu saking cahya kemira iku kaya geni, saking kupingira karo iku geni, mangka aja sira plih.

    99. Lan kaping pat teka ing wong, iku kaya wengi ingkang peteng, mangka anerus cahyane iku kaya kaca lan ing jerone iku mutiara, ingkang kabuki ing cahyane iku kaya rupane manungsa anenungkaken denira ing atinira ing dalem sedhela, mangka wajib amumekna nira, ing anak putunira, aja saksira aningeli cahya putih, iku cahyane wong mukmin, sekarat hana iku papat, ujuh, riya, kibir, sumengah, mangka pasat maning nyawa iku, mangka angetokaken nyawa iku apa ing dadene pangerane maligi, mangka aningali cahya ijo, ingkang dhihin arupa kaya wong ayu, lan kapindo arupa guru, Lan kaping telu arupa Pandita, Lan kaping pat arupa Ratu, Lan kaping limo arupa anak Nabi, mangka jawabe sampun sasar, mangka nuli tiningal dening Malaikat Salpail, penat maning nyawa iku, kendheng ana ngalame nasut, segarane lulat, wewacane Yamudu uwalladu, mangka, tiba patinira, aningali cahya tetiga kehe, ingkang dhihin cahya abang cahyane wong Yahudi, cahya kuning cahyane wong Nasrani, cahya ireng cahyane setan, mangka pesat maning cahya iku kendheg aneng makripat, ngakame lahud segarane nila, lawange retba, Pancadriya mangka sira aningali ingkang ora ana keraman ingkang katingal mangka amaca sahadat sekarat, jiwa linge sahadat tanpa sahadu, naming sahadat sakaratil maot, nyatane mangka sira aningali cahya ijo iku cahayane Jabarail, cahya putih cahyane Nabi, mangka pesat maning cahya iku ana ing rahsa, tanggal rupa tanggal wujud, tanggal panunggaling Roh, iku urip panunggaling iman, iya sekarat panunggaling Iman, iya sekarat panunggaling tingal, iku makripat, ing Dat panunggaling wujud mutlak, panunggaling bumi iku puser, mangka pesat maning nyawa iku satingkahing oleh olihan sawedaling saking cangkem, nyawa iku nuli angemban, dene Malaikat Salmail, nyawaa iku binekta dhateng ngawiyat, wong ahlul iman iku metu cangkem, nyawane wong ahlul tokit iku metu ing ngirung, nyawane wong ahlul makripat metu saking embun-embunan nyawane.

    100. Yangne ingkang metu saking embun-embunan iku mangsrun ing Roh skapingi, yangne, yangne panguwusane angimpi, lawange retna kusuma iku sasar, unggahe wong iku, ingkang ametu ing ngirung iku mangaran ing sukma, lawange jagad kasturin kang metu ing cangkem iku kang amangeran ing Datullahi.

    101. Yangne wirasane tekhir iku wewelu, aksarane ingkang dhihin iku Alip Mutakalimun wakid, Lan kaping kalih Lam Jahidah, lan kaping telu LamTahdil lan kaping pate subadiyah lan kaping lima Alip Kurupul wakin, Lan kaping nem Kab Kabirhu, Lan kaping pitu Wawudiyah, Lan kaping wolu HE. Rabiul Darajat, mangka sadurunge katrapan sastra iku meksi pangucaping tunggal. Asmaning Alip ingkang Agung iya iku kodrat Illahi, iya iku kang ingaranan sembahyang.

    102. Lan anapun sampurnane Takbir iku ora ana ingkang anduweni tingalane kawula iku dening kawimbuhan dening sipat basar, dadi sirna tinlata ngale kawula iku anging sihing Gusti kawula.

    103. Utawi anapun wirasaning Niat iku tetiga, kang dhihin iku aksarane NUN, Lan kaping kalih YA, lan kaping telu HE, utawi Hakekate NUN iku cahya utawa Hakekate YA iku rahsa, utawi anapun Hakekate TM iku ngera, iku ora ana urip roro, ora nana pati roro.

    104. Utawi anapun sampurnane Shalat iku meneng.

    105. Utawi sampurnane sahadat iku ora anduweni pangucap, dening kawimbuhana dening sipat mutakalim, dadi sirna pangucape kawula iku.

    106. Utawi sampurnaning Niyat iku ora anduweni murid, dadi sirna kawula iku dinulu dening murid.

    107. Utawi kandu takrul takyin iku dadi juru basane niyat, niyat iku metu saking wujud, iku metu saking sir, sir iku metu saking Hakekating niyat, niyat iku metu saking Hakekate iman, iman iku metu saking Hakekate TE, Tokit iku metu saking Hakekating urip iku metu saking pucuking Alip, Alip iku metu saking Wujutullah.

    108. Cahya, Khayun, Cahyane khayun, khayun iku minangka uriping sastra cahya.

    109. Ngalim, Ngalim, iku mainagka pangawikaning sastra, cahyane samingun-samingun-samingun iku minangka pamiyarsane sastra, cahyane basirun-basirun-basirun iku minangka paningaling sastra, cahya mutakalimun-mutakalimun minangka pangandikane sastra, Alip-Alip iku minangka cahyane, baka-baka iku minangka kalanggenging anatra, punika sampurnama sipat apngal, andadekaken rupa warna, iyaiku enggone nyatakaken dat, sipat, afngalullahu, kejatenane dat, anane sifat Alipsampurnane apngalullah, dadi jinaten sulajati iya santraningsuh, uninesira, ingaranan rupanira, mangka sastra iku rupune kadi tanghal ping pat balas, cahyane sastra alip, mangka Alip iku jinabaran roh, jinabarah imar, rinupaken baden, mangka Alipo iku jinabaran roh, jinabarah imar, rinupakken baden, mangkaAlip wujut mutlak, iya iku panguluna sastra kabeh jenenge ngelmu ugalimun maklumun, iku tegane Allah Muhammad, nurbuwat, tegese nurbuwat iku ati, cahyakang sinimpen ing dalem baka, tegese Muhammad iku cahya kang sinimpen ing dalem kidam, tegese teteluning tunggal.

    110. Utawi ingkang birahi iku sipatullah, ingkang binaraekaken iku datullah, anyatakaken ing kagunganira, enggoning anyatakakeun iku sifat patang prakara, ingkang bangsa ghaib. tegese sifat iku asring dat, mangka datullah iku angandikaken sastra jroning karsa, ingkang minangka mangsine iku cahyane sipat kahar, ingkang minangka papan cahyane sipat jamal ingkang minangka kalame iku cahyaning sirat jalal. Ingkang anulis sastra iku sipat afngal. Ingkang angarupaken sastra iku sipatullah, kun mangawu jida payakun kuluhar jakun, tegese suwarane mangaine denanemmangeng kalam, mangka kalam iku tinulisaken matu sastra roro sastra roro iku tegese Alip Ian Lam. Iya iku tegese kawula gunti, mangka iya iku banyuning mangal, iku ingkang dalil atira baniyah, enggone rahna kang sampurna, tegese rahsa sampurna, Tegese rahsa sampurna iku Rasullullah, iya iku ati kang timulia Allah, ia Illah ha Illahu, iku sampuraning rupa anggone anyatakeun.

    111. Utawi sampuraning Esir iku wujut karep, iya iku nyata ing kandu takrul takyin.

    112. Utawi sampuraning sakarat iku ora ana patining kawula lan urip ing kawula iku kawimbaban dening sipat kayat.

    113. Utawi namina shalat iku ora ana anembah sinembah.

    114. Utawi isbate shalat iku amuhung Allah kewala, ingkang sadaya langgeng bamuji pinuji ing dheweke.

    115. Utawi dadine sahadat iku datullah kawula ingkang langgeng kratonira

    116. Utawi napina sakarat iku ora ana.

    117. Utawi isbate iku wujut kewala ananing jatining ilang, ilang iku dening isikapi

    118. Utawi sukma ing shalat iku salam, dudu salam ingkang nengen iku roh, dene ingkang ngiwa jisim latip, tegese maring sipat basar.

    119. Utawi anapun tangane shalat iku takiyat, dudu takiyat kang wiraca ing papan lan tulis, tegese ora ana pangaran anging pangeran ora ana kawula anging kawula, tegese ora ana roro, iku sampurnaning takiyat, kerana ngadeg shalat iku dening jenanging Alip, sujut mutlak, karana rukuk shalat iku dena nyata ing sadrah, panapa ta tegese sadrah, dena tanana karepa, krana sujut shalat iku dene andarbeni polah, krana lungguh shalat iku dene nyata yen kawula, iya iku ingkang aran shalat dakim, iya iku ingkang karan ngilmu iladuni. Utawi anapun yayah ing si jisim iku sujud tegese sujud iku, ingkang ngadeg angsal saking api. Tegese api cahya jarnah, ingkang rukuk iku angsal saking angin tegese angin napas, ingkang metu ing ati po’ad, ingkang sujud angsal saking banyu, tegese banyu urip, tegese rasa kang mulia ingkang lungguh iku angsal saking bumi, bumi kang ora kena rusak, Tegese bumi arane johar akhir, tegese ingkang sujud iku Adam, tegese Adam iku sadurunge ana bumi langit iku Adam arane.

    120. Punika sahadat 7 prakara, ingkang dhihin sahadat sarengat, enggone ing lesan, kaya ashadu anla illaha illallah, wa’ashadu ana Muhammadur rasullullah, lan kaping-kaping kalih sahadat tarekat enggone ing kuping, kaya lamakbuda Ilallah, ora ana ingkang-sinembah, anging Allah, lan kaping tiga sahadat hakekat enggone ana ing irung, kaya: lama ujuda ilalah, tegese ora ana kang anganakaken nangging Allah, lan kaping pat sahadat makripat, enggone ana ing netra kaya ; layak ripAllah hu ilAllah, tegese ora ana ingkang weruh anging Allah Ta’alla, lan kaping lima sahadat batin, enggone ana ing ati: kayalahu, Allah ing atine, lan kaping nem sahadat ga’ib enggone ana rahsa, tegese elinge atine ing Allah, kaya hu – hu –hu, lan kaping pitu sahadat barjah, kaya Akbar Akbar.

    121. Punika kawruhara denira dina pepitu, mulane ana dina jamungah Allah Ta’alla anglairaken ing Nabi Adam. Mulane ana dina sabtu Allah Ta’alla anglairaken ala lan becik. Mulane ana dina akad, Allah Ta’alla anglairaken pati lan urip Mulane ana dina Isnen, Allah Ta’alla anglairaken Nabi Muhammad salalahu ngalaihi Wasallam. Mulane ana dina Slasa, Allah Ta’alla anglairaken Iman, tekid Mangripat. Mulane ana dina Rebo, Allah Ta’alla anglairaken sarengat tarekat, Kakekat, Makripat. Mulane ana dina Kamis, Allah Ta’alla anglairaken waktu lalima.

    122. Punika Bab ROH: Utawi roh iku sawiji, anadene mertabat iku papat, ingkang dhihin Roh pangeran, iya iku ingkang pinangeran Roh Kudus; iya iku kang anduweni sipat papat; kahar, jalal, jamal, Kamal. Lan kapindho, iku Roh Ilapi: Iya iku roh Nabi Muhammad miwah para Nabi kabeh. Lan kaping tiga iku Roh Rukhani; iya iku rohe sekathahing para wali lan para mukmin kabeh Lan Kaping pat: Roh JASMANI: Iya iku rohe sekathahing para wali lan para Mukmin kabeh rupane, Roh ingkang narima,.Lara kepenak ingkang weruh, ing ana, tatkala aturu katon ana ing dalem pengimpen. Lan Roh ilapi iku Roh Kanjeng Nabi Muhammad lan jisime iku, Ruchani lan Roh ilapi iku bayangane sakehe roh lan bayange sakehe ingkang dumadi kabeh, mangka jagad iku ora jumeneng yan ora maujut rah ilapi.

    123. Utawi anapun sipate Allah iku papat: kahar, jalal, jamal, kamal, iya iku DATE ARANE, Tegese sipat KAHAR iku wusesanira. Tegese sipat JALAL iku : Kagunganira Tegese Sipat JAMAL Iku : Kaelakanira Tegese sipat KAMAL iku : Kasampurnanira.

    124. Utawi SIPAT RONGPULOH IKU: dudu sipating Allah, Asmaning: Allah arane anadene ingkang nelakaken iku sipat papat. Metu saking sipat DATIYAH, SIPAT KAHAR iku metokaken SIPAT SALBIYAH, Lalima iya iku KIDAM BAKA, MUKALAPATU LIL KAWADISI, KIYAMU BINABHASI. Utawi sipat JALAL iku mangani pepitu: Kodrat, Iradad, ngilmu, kayat, samak, basar, kalam. Utawi sipat Jamal iku; Maknawiyah; pepitu Kadiran, Muriden, Ngaliman, Khayan, Samingan, Basiran, Mutakalimun. Utawi Sipat KAHAL iku : NAPSIYAH sawiji : Iyaiku; WUJUT: Iyaiku Tajaline sipat papat, iya iku pangadikane ahli Supi Yen pangandikane weng ahlul sarengat iya uga sipating Allah.

    125. Punika Masalah tertantune sipat papat : kahar, Jalal, Jamal, Kamal, Anadene tertantune SIPAT PAPAT iku anom tuwa Utawi tertantune SIPAT JALAL iku kuwat lan apes Utawi tertantune SIPAT JAMAL iku Urip lan mati Utawi tertantune SIPAT KAHAR iku LALI lan Eling Iku aja wicara ing wong kathah, poma ujar iku den gemi den naastiti. BISMILLAH HIROHMANIR ROKHIM.

    126. KAWRUHANA denira satuhune jakate jasad iku wolung prakara : Ingkang dhihin iku jakate MATA Lan kapindho jakate KUPING Lan kaping telu jakate LESAH Lan kaping pat jakate GULU Lan Kaping Lima Jakate ATI Lank aping nem Jakate ROH Lan Kaping pitu Jakate BADAN. Lan kaping wolu jakate SIKIL Utawi anapun jakate MATA iku aningali maring Allah. Utawi anapun jakate KUPING iku miyarsakaken Dhawuhing Allah. Utawi anapun jakate CANGKEM iku angucapkeun Kalimah Kalih Kaya lapal laillah haillah Muhammad Rasullah Utawi anapun jakate GULU iku atinggal ingkang karam lan mangan kalal. Utawi anapun jakate ATI iku MADHEP MARING ALLAH Utawi anapun Jakate ROH iku PASRAH MARING ALLAH Utawi anapun jakate BADEN iku saking tadhah amine Utawi anapun jakate SIKIL iku anjenengaken pakone Allah Ta’alla.

    127. PUNIKA-ANGGON-ANGGONE-DEWI-PATIMAH, SAMIANGANGGOA SAKABEHE UMAT-INGSUN SADAYA !!!! BISMILLAH HROHMANIROHIM Sang guna adun cahya, medal saking Allah, banyu kodratullah laillaha ha illallah, Muhmmad rasullah.

    128. PUNIKA PAWARIHARE DEWI PATIMAH KALANE BIRAHI BISMILLAH HIROHMANIROHIM Asahdu Patimah rembesing bumi, emban-embane Roh ilapi, Sorote Patimah sami tetep, ana bagendha rasullullah yah hu wadon sejati.

    129. Bismillahi hirohamnir Rokhim Ashadu ini Patimah percaya ing Allah, wadon dhewek saking kodrat tullah, patimah imanning Allah.

    130. PUNIKA SAHADAT SEKARAT, Dewi Patmah, Mulane apa tabirratul ikram, dat leng, les tan katinggal.

    131. PUNIKA SAHADAT KENCANA SINARAWEDI; Ashadu manik kencana sinarawedi, datku sukma kang ginawa mati, kurungan mas ilange tanpa kerana, mulya maring kubur silarung.

    132. PUNIKA SAHADAT TANPA SAHADU. Ya purba AJAL Wujuddullah ya dat mutlak.

    133. PUNIKA SAHADAT PUTIH: Illa anlal jati, illa ha turune rasa illahu pacampuhe ing rasa, ya rasa ya rasulullah, jati kang jinaten dening Allah, wujudullah, apngallullah, hu Allah yakhak.

    134. PUNIKA SAHADAT JATI: Anlaka ananingsun, illa ha rupaningsun, illalah pangeraningsun, setuhune ora ana anging ingsun. Ingkang hababan iku hanyawa, ingkang anduweni nyawa kabeh.

    135. Punika kawruh denira setuhune wong wadon. Mangka ora sampurna wodone, yen ora angucapkeun SAHADAT PATMAH. Ashadu sipat patimah, kodratullah, patimah adus Muhammad tetesing rohani medal saking rohilapi, amulyakaken ing datatullah, ingsun ratuning estri, kang luwih suwarga sejati ingsun adus banyu suci, kang adus baden jasmani kosokan nyawa ruhani, amulyakakeun rasaning datullah, anggonira sempurna..

    136. PUNIKA SAHADAT PATIMAH : Ashadu anla illa ha Illalah, hu waashaduanna Patimah bettir rasullullahu, sayidina sak piljanati, tegese anekseni ingsun, satuhune ora ana pangeran anging Allah, lan anekseni ingsun, satuhune dewi patimah iku putrane wadon kanjeng rasullullah, ingkang dadi gustine wong wadon ana ing dalem suwarga.

    137. PUNIKA KAWIKAMAHA JATINING WADON, tet kala durung ana bumi langit suwarga lan neraka, durung ana jatine wadon, meksih wonten kakilahi Ta’alla, nyatane ing makyumat lagi kinaraakaken anane, dene ora lanang, ora anak-anak ora anganakeken, ora bapa ora babu, anane saking ora, dadi ana, mangka kinarsakaken dening Allah Ta’alla, mangka ana wong wadon iku ana ing dalem suwarga, lan widadari, mangka anglairaken makdum butent iku jinulukan patimah, iku sadate ashadu anlal illaha ilallah patimah cahyane Allah, yahu ya Allah dalimu khamadur rasululllah mangka jinulukan makdum harum, mulane den arani makdum harum, dene dadi ratune wong wadon sejagad iku kabeh. Mangka jinulukkan makdum kiyar, dene tan ana rowange, mangka jinulukan sariyah dening iku minangka minulyaken dening Allah. Jinulukan Tupiah dene minangka panutane wadon kabeh, sing sapa wong wadon ora weruh jenenge wong wadon iku. barang panggawane ora sah, yen idhep ing jenenge wadon iku sarirane iku minulyakaken aneng suwarga, wong iku dening Allah Ta’alla weruha yen ari weruh sapertine kewan ing lungan.

    138. Punika ngawekani bab ngelmu rasa, utawi ingkang kita kawikani iku angsaling rahsa, iku saking nurbuwat, mangka iya iku ingaran nan NURULLAH, mangka tumuran Nurullah iku saking ngaras, ana ing Betalmakmur mangka tumuran saking betalmakmur, ana ing betalmukadas ana ing dhinding Jalallullah, mangka acampuh olu jalallullah, mangka tumurun saking dhinndhing jalal, ajejuluk ana sagara rante, ajejuluk rapatullah, mangka tumurun saking segara rante ana ing sulbi, ajejuluk sulbiyah, mangka tumurun saking sulbi ana ing kalam napsi, ana ing Betulah campuh Asmaragama, arane rasa roro dadi sawiji, mangka ajejuluk rahsaning Allah, acampuh manikem kelawan rahasa ing daginge wadon. Iku ingaranan sirollah, mangka dateng ing patang puluh dina arupa getih kampel, mangka iya iku ajejuluk kamulayaning Allah. Mangka patang puluh dina malih lagi sipat anak Adam, ingaranan sipatullah, mangka Patang puluh dina malih mosik kelawan osiking Allah. Patang puluh dina malih lagi minger, angarepaken pitung wulan ingaranan Ratiping Allah, patang puluh dina malih lagi amitak lelangse, ingaranan AKBARULLAH. Ikulah mulane ana sujud, den tulungi jabang bayi iku dening ingkang tetulung. Iku den awus, mangka gandhang jabang bayi iku, tinurunken ing talam. Mangka ngumure patang wulan ingaranan MURBAHING ALLAH, ngumur patang taur ingaranan muride Allah. Ngumur sangang tahun ingaranan Nurullah, ngumur pat belas taun malih maring tet kala Nurullah, ikilah angsaling rahsa, iku saking Alip, aran Nurullah, iya iku kang gumelar ing jagad kabeh, ingkang ana ing sirah kabeh, iku ora ana anduweni rahsa. Jumenang rahsaning Allah, iya iku rahsa, ingkang karsa jisim iku, tatkala wus angunwikani ing rahsa iku saking nurbuwat, mangka sampurna tekade, tetapi iku dudu parasan. Ingkang karsa ing nalane, jisim iku ingkang aran rahsa mulya ingkang karsa ing nala sawiji-wiji, mangka dadi ananira iku kabeh ana ing Allah, kala sawiji-wiji ingkang kita kawruhi iku nyatane ananira, iku kamulyaning Allah, dadi siran makluke, jumeneng Datullah igaranan Sipatullah, krana sira ingaken Sipatullah dene kinarya rambangan, ing paenan wewayangan Allah, mangka ana sira iku ingkang sabenere, dene tan pisah lan jisim kelawan eroh, lan ora pisah kelawan Allah, aja sira samar aningali ing ananira dewe, krana wus nyata ingksng saking pangakening Allah, iya iku ingkang sira tandrikaken, ingkang sira panggih panggih donya lan akhirat, ingkang pangadikane Nabi Salalahu ngalahi wusalam. Mangka sing sapa ora anguwikani ing hasalerahan, dudu amatingsun, nyata wong iku lamun mati kaya matine canthoka, sebab dene ora angunwikani, angsal-ungsule rahsa, iya ikulah tandhane wong setengah maring Allah. Ashadu anla ila la illAllah, iklam. Anekseni ingsun, ora ana pangeran anging Allah, tegese lamun takikan lilmakdubi, piwujudi illal pardulladi, uwal kalikul ngalam, bikakiil ngalam.Tegese; ora sira ingkang sinembah iku ing dalem wujude sinembah, iku ingkang agawe, ingkang nganakaken ing sinembah kelawan sabenere iku. Yangne ingkang sinembah kalawan sabenere iku; kaya: bapa lan babu lan ratu, lan guru, mangka panembahe sabenere karena pakoning sarak, mangka ora bener, panembahing brahala, krana wong nembah brahala iku ora pekening sarak.

    139. Yangne maknane ASHADU iku angawruhi kelawan dalil ngakal lan dalil nakal.

    140. Puniko sembahing sahadat anebut pepanganing sahadat, iku anyingahi ingkang karam, tuduhing sahadat anyinggahi kibir, tuhuning sahadat iku puji lampahing sahadat iku amsa Qur-an. Tegese sahadat iku rahsaning roh, tegese sembah iku adhaping roh, tegese pangabekti iku mengku ning roh, lampahing ngati-ati iku niyat kareping ati, iku sir pepasihing ati, iku iman paninggaling ati, makripat jeroning ati iku ELING, anata kawruh roro, jenenging ati iku eling adhaping ati iku PANARIMA.

    141. PUNIIKA BAB SUHUL apa kang tinemu ana ing dalem shalat, iku yen sing anemua ing Allah iku jabariyah, yen nemua ing kawula kadariyah jenenge yen ora onoa ingkang den temu ing dalem shalat iku siya-siya shalate, mangka jawabe; ingkang tinemu ana ing dalem shalate iku adheping sembah, ingkang sinembahken dening Allah maring kiyambakira, lan malih sual apa ingkang tinemu ing dalem patine, sing banemua ing Allah jabariyah, yen anemua kawula mangka kadariyah, yen si ora ana ingkang den temu mangka kapir patine, iku jawabe ingkang den temu ing dalem pati iku adhaping sih ingkang kinasihan dening Allah. Mangka sir nenepi dening asma Allah lan rasa rumasa sir nenepi dening maha suciyane Allah. Lan malih sual apa ingkang kang sinembah, lan panembah iku, mangka jawab; ingkang aran sembah iku nugraha wusesanira, lan ingkang aran penembah iku panarimaning sih nugrahanira. Lan malih suci apa ingkang ran rekad, mangka jawabe ingkang sinawa adhapa angestokaken ing Allah lan ingkang supangat nabiyullah. Lan ana sual malih, apa pesthine tekat, mangka jawabe; pangestuning roh ingkang sinung awus dening Allah. Lan malih ana sual. Apa kang tekadaken, mangka jawabe wiyose andikaning Allah amerhakaken ing Datullah lan sipatullah asma Allah lan abagalu. AS HADU ANLA ILA HA ILLALLAH MUKHAMADUR RASULLAH SUN ANGAWRUH ORA ANA INGKANG AGAWE ANGING ALLAH. BISMILLAH HIROHAMIR ROKHIM.

    142. Utawi muridun iku amrih ngekasane, saking dhikir iku, tetanging padunge ana ing dalem tokid. Lan kerep ing jerone tokid. Saeng ga abali sira ing dalem wujudira iku, saring tingkah ngadamira, ing dalem kukum lan iku wekasane pakonira maring Allah Ta’alla mangka tetkala wus tumeka sira maring makam ingkang iki mangka setuhune wus tumaka sira maring tokiddat, ingkang hiya iku wesetuhune wus tumake sira maring tokid, kala ora ana iya iku ing burining Allah Ta’alla, iya enggone amandeng ingkang amandeng utawi penggawe wangkono iku ora ana kaprah-kaprahe, anging sawuse kerep sira marang dhikir ingkang angumpulaken jaring sakahe, sayogyana ing sira arep angawruhana sira ing wiwitane, ing sakehe tata karma ing dhikir saengga amakulih ing sira, sakehe cukule lan sakehe paedahe, ingkang wus sira sebut iku kelawan dening Allah Ta’alla. . Utawi anapun kehe mertabat iku pitu utawi mertobat ingkang dhihin iku ingaranan KATAKYUN, tegese takyun iku durung nyata, anane Allah Ta’alla, iku sipate lan apngale lan asmane iku durung nyata. Ora kena Allah Ta’alla iku angucapkeun kalih dosa, kerana satuhune Allah Ta’alla iku maksih ghaib, ora ana angawruhi ing anana Allah Ta’alla, iku wong sawiji, ora ana angawruhi kaya wong akhlullah lan wong akhlul kaku, lan wong akhlul, tikarik, lan wong akhlul kaspi, lan wong akhlul musahinah, lan wong akhlul mujaidah lan wong ahlul makripat, padhane para Nabi ingkang mursal, lan para malaikat ingkang mukarob, pon ora ana angaweruhi, krena setuhune ora ana angaweruhi, ora ana mertabat malih sakluhure Akadiyat.utawi hanapun sakehe tata kramaning dhikir iku iyaiku lelima ingkang dhihin atas ing dhikir iku rolas, ana ing dalem tingkahi dhikir lan tatelu sawuas dhikir. Anapun tata kranmaning dhikir iku ingkang dhihin tobat saking sakahe durakane, lan sakehe kasalahane, lan kapin telu meneng krana angasilken sidike dhikir, lan kapin pat arep anedha tulung kalawan anyipta ing gurune, lan kapin lima arep nekadaken hiyalung saking kanjeng nabi salalahu ngalahi wusalam, lan karama iku satuhuna gegentuina. Anapun tata kramana dhikir ingkang rolas ana ing dalem tingkahe dhikir iku, ingkang dhihin lungguh enggon ingkang suri. Lan kaping telu arep ndokoki wawangi ing palungguhare dhikir iku Lan kapingpat arep nganggo-anggo ingkang wangi Lan kaping lima iku arep milih enggon ingkang peteng. Lan kaping nem arep ngermaken matane karo Lan kaping pitu arep ngarepaken ing rupane gugune serasa katwana inggarepan. Lan kaping welu iku arep sidik ing dalem dhikira Lan kaping sanga iklas atine Lan kaping sepuluh amilih ing lapal laillaha illaalah Lan kaping sawelas arep ngawisaken ing sakehe ingkang mujut ing miride iku. Kapindho arep dhikir ingkang dhihin menang tatkalane wus tutug miride iku. Kapindho arep megataken napase saking wira-wirine Lan kaping telu arep nyegah saking minum banyu iya ingkang ingi ringi ing dhikire iku, alapen denira njar iku kelawan Allah uga ingkang anulungi.

    143. Utawi anapun kehe mertabat iku, pitu utawi martobat ingkang anane iku ingaranan KATAKYUN, tegese takyun iku durung nyata, anane Allah Ta’alla, iku sipate lan apngale lan amnane iku durung nyata. Ora kena Allah Ta’alla iku anyucapkeun kalih dasa karane satuhune Allah Ta’alla iku maksih ga’ib, ora ana ngawruhi ing anana Allah Ta’alla, iku wong wusiji, ona ana angawruhi kaya wong akhlullah lan wong akhlalu kaku, lan wong akhlul tikarik, lan wong akhlul kaspi,lan wong akhlul musahinah, lan wong akhlul mujaidah. Lan wong akhlul makripat, padhana para Nabi ingkang mursalan para malskat ingkang mukarob, pon ora ana angawruhi. Krana satuhuna ora ana angawruhi, ora ana mertabat malih sakluhure akhadiyat, lan durung ana kang angupamakaken ing namana Allah, satuhuna anane Allah iku meksih ga’ib lan ingaranan Allah Ta’alla iku KUN IKHAK. Lan ingaranan, wujut mukal lan ingranan wujut kalis lan ingaranan DATJATI, lan ingaranan DAT MUTLAK, Tegese datjati iku saweg kacane maha suci, saking pecenthalan kelawan sipat maknawiyah, iku durung ana angawruhi saking sakehe para nabi lan para wali iku ora ana ngawruhi. Ing kakekate dat iku kaya pangandikane kanjeng Nabi Muhammad salalahu ngalahi wusalam. Subhana kama ngarobtuka khakum makripatika, tegese maha suci tuwan, ora ana angawruhi kita iki kabeh, ing tuwan sabenere, pangeweruh tuwan, lan malih ngandika Allah Ta’alla: TATAKARUPILLA ILLAHI TA’ALLA WALATAPAKARU PIDAT TILAHI TA’ALLLA, Tegese: pikir sira kabeh ing dalem datte Allah Ta’alla. Lan angandika para pandhita: KIJABUL KHAKU NGAH MAKRIPATIKUN IDALAHUM ILLAIHI. Tegese; Angaling-alingi Allah ing makluke angawruhi sajatining: Allah Ta’alla iku anuduhaken ing Allah Ta’alla ing wong iku kabeh.
    144. Utawi mertabat kang kapindho ingaranan WAHDAT, lan ingaranan TAKYUN KANG AWAL. Tegese: Kenyatakaning Allah Ta’alla kang awal krana setuhune WAHDAT iku, mula- mula Allah Ta’alla iku akarsa andadekaken ROH ILAPI, lan sekehe kang mujut kabeh, lan den ngibaratake Allah Ta’alla iku tatkala ana ing mertabat Wahdat iku lagi akarsa angiwikani dhewek-dhewek, ana ing dalem ngilmune Allah, angwikani sakehe kang manjut kabeh atas dedalane nabi Muhammad, tegese basa Muhammad iku lagi kumpul ana ing dalem ngilmune Allah, sakehe sawiji-wiji iku kabeh, durung den pisahken ing satengahe iku meksih umpetan, ana ing dalem ngilmune Allah, kaya langit during nyata langite, kaya bumi during nyata bumine, tetapi sakehe sawiji-sawiji iku durung nyata maksih ana ing dalem ngilmune Allah, kaya upama we wite kayu godhonge lan pange, selagi durung nyata meksih umpetan ana ing dalem wiji, mangka inggaranan sakehe sawiji-wiji iku kabeh, tatkala ana ing mertabat wahdad iku malumatsu undadtihi, tegese kelakuane karsa lan wusesa, lan hiya iku ka ketang roh Muhammad iya iku ingaranan tulis tanpa papan lan ingaranan papan tanpa tulis, lan ingaranan wiji umpetan ana ing dalem uwit lan ingaranan curiga manjing warangka, warang warangka manjing curiga, iya iku kakekating roh, ilapi iku selag durung nyata, yekti umpetan ana ing dalem wujut, tegese wujut iku dad, krana ikulah ingaranan wong Ahlullah, lan ngaranan wong wongakhlul khak, lan ingaranan wong akhlul kasphi, iya iku den arani ngelmu ngalim, maklum lan den arani ngisik-ngasik mapsuk den arani Awal Akhir lan den arani lahir bathin, mangka makehe iku tunggal arah ana ing dalem kakekate, krana satuhune kang mujut iku selagi durung nyata yekti umpetan dalem ngilmu-ngilmu iku. Selagi durung yekti umpetan ana ing dalem ngalim, mangka ngilmu iku ngibarat mertabat wahdad wujudullah krana ikulah wong-wong akhlul khak iku padha ngucap: krana krana setuhuna ngilmu ngalkim maklum iku tunggal lamun arahana ing dalem kakekate, lamun arah ana dalem wujude krana satuhuna anane ngelmu ngalim maklum iku selagi durung nyata ya kaya upamaning witing kayu, godhonge lan wahe, lang pange selagi durung nyata, yekti umpetan ana ing dalem wiji, lan kaya upamana anana wawilengan keur akeh, selagi durung nyata yekti umpetan apana wewilangan kang sawiji mangka krana ilu lah wong akhlulkhak iku padha ngucap; Krana setuhune kang maujut iku kabeh saking arah apa ing dalem kakekate, mangka iya iku angandika Allah Ta’alla: KUNTUKAN JAN MUKASIYAN tegese apa godhong kang samar. Utawi Allah Ta’alla kang awal kang akhir, kang lair kang bathin, kang ngelmu kang ngalim, kang maklum kang ngisik, kang ngasik kang maksuk mangka sakehe iku tunggal. Lamun arah ana ing dalem takyun awal iku yekti liyan, krana setuhune tegese awal-awal iku mula-mulane "" "" "" angawruhi iku derahe, lan tegese khir iku mula nyata, lan tegese lair iku dening anglimputi ing barane sakeho kehe sawiji-wiji "" kodrat iradat ing Allah Ta’alla iku tegese batin iku derahe dening awal lan tegese ngisik birahi iku derahe lan tegese makang iku kanab biniraekaken iku derahe "" derahe lan tegese ngelmu iku kinawruhan iku derahe sakehe iku tunggal, lamun arahing kakekate. Krana setuhune sekabehe kang kocap iku selagi durung nyata kaya umpamane iku kabeh, iku yekti umpatan ana ing dalem anane wewilangan kang sawiji-wiji, lan tetapi iku umpaten sawiji-wiji iku ana ing dalem ngelmune Allah. Iku ora kaya umpetan banyu ANA ING DALEM WADHAH, IKU WUJUDE RORO. Utawi wahdat iku anduweni laku roro krana setuhune wahdat iku wujut kang pasthi kelawan tingkah, angumpulakan lan amisahaken, ing antarane akadiyat, krana setuhune wahdat iku kahanane ngelmu kang pasthi, tegese iku pangawruh kang sejati.

    145. Utawi mertabat kang kaping telu iku ingaranan takyun kang kapidho lan ingaranan wakhidiyat, tegese kenyatahane Allah, ingkang kaping pindho, lan ngibarataken Allah Ta’alla iku ing mertabat yakin akarsa angwikani ing date lan sipate, lan asmane, lan apngale lan sakehe ingkang maujud, iku dedalan munpasil, tegese wus den pisahaken sakehe sawiji-wiji, ana ing ngelamuna Allah ing satengahe saking setengah kabeh, kaya langit wus alangit, karo bumi wus nyata manungsane, lan kaya jin wus nyata jine, lan sapadhane, tetapi iku durung lain kabeh, apa ing dalem ngelmune Allah, mangka ingaranan sakehe sawiji-wiji, kang tatap apa ing dalem ngelmu Allah. Krara sama iku akyan nabitah arane, tegese wus hakekate marungsa, iku kahananing sawiji-wiji, kang tetep ana ing dalem ngelmu Allah, krana asma iku kenyatahaning sipat-sipat, iku kenyatahaning dad, mangka padha ngucap; wong akhlulkhak, krana satuhune ngelmu ngalim maklum iku tunggal kaya kang wus kasebut iku saking arahing ngakal kewala, ora mamangsane maklumat iku, tetapi tetkala ana mertabat wakidiyat ingaranan akyan sabirah. Utawi ngelmu iku inggaranan watlan ngalim iku inggaranan sipat maksuk, iku ingaranan wujut ilapi lan ngisik iku ingaranan dat lan ngasik, iku ingaranan sipat lan batin, iku ingaranan awal akhir, iku ingaranan akhir, krana kang awal iku kang ngawruhi lan kang lan kang akhir, iku nama kinawruhan, iku nama kang lahir, lan angawruhi iku nama kang batin.

    146. Utawi mertabat kang kaping pat iku ingaranan Ngalam arwah, hiya iku kenyatahaning Allah kang kaping pat, tegese ngalam arwah iku mula- mula Allah Ta’alla iku andadakaken sakehe nyawa kabeh, mangka iku ingaranan JOHAR PIRIT, tegese kaharane kang ara narima padum, maksih jisim aine ora narima ajur mbesuk, lan ora narima suka-suku, lan ora narima pecah-pecah, lan ora kinawruhan dening pancadriya lahir. Utawi pancadriya lahir iku kaya paninggal lan pamiharsi, lan pangambu, lan pagerek, lan pangarsa ing ilat. Utawi lamun pancadriya batin iku kaya pikir, pamicara, lan cinta lan nyana, lan elinga, ati, tegese ngalam arwah iku mula-mula Allah Ta’alla anglahiraken ing roh ilapi, lan sakehe kang andadekaken kabeh. Krana satuhune wiwitane kang dinadekaken dening Allah iku, roh Nabi Muhammad salalahu ngali wasalam. Kaya pangandikane kanjeng nabi salalhu ngali wusalam, ana ing Dalil Kudus Awalumakal laku rokhani, tegese wiwitane kang di kang dinadekaken dening Allah Ta’alla iku NYAWANINGSUN, mangka ngalam arwah iku umpetan ana apngallulah, tegese ngalam arwah iku tatkala durung nyata yekti umpetan ana ing dalem arwah iku apngalullah iku umpetan ana wujudullah tatkala durung nyata, tegese wujut iku dad. Tegese dad iku anane, mangka sakehe iku tunggal lamun arahing kakekate, ihmun arah takyun mangka hiya liyan sakehe kang kocap kabeh, kaya ujare Muhammad satuhune iku sakehe kang majudah iku lamun arah ana ing dalem kakekate, mangka Allah uga, mangka lamun arah takyun yekti liya saking Allah.

    147. Utawi mertabat kang kaping lima, iya iku ingaranan ngalam misal lan hiya iku mula-mula Allah Ta’alla handadekaken rupa sawiji-wiji kabeh, kang nyata ana ing dalem ngalam, misal, lan hiya iku ora kinawruhan kelawan pancadriya lahir. Tenapi kinawruhan pancadriya batin, utawi ngalam misal iku maksih jisim alus, ora narima suku lan ora narima paron-paron, lan ora narima ing pandum, lan ora narima ing teles aking. Utawi maksude ujar iku meksih cahyane ngalam misal iku, tegese ngalam misal rupane bangsa jasmani. Kerana satuhune ngalam iku tatkala durung nyata rupane, iya iku ingaranan ngalam arwah, iku ngalam misal. Utawi ngalam misal iku dalem arwah, iku tunggal lamun arah, ana ing dalem kakekate, mangka lamun arah ana ing dalem takyum yekti liyan kayawis kecap ana ing mertabat wahdad.

    148. Utawi mertabat kang kaping nem iku ingaranan mertabat ingalam ajesamu lan hiya iku kenyatahing, Allah Ta’alla, kang kaping nem tegese mula-mula Allah Ta’alla andadekaken sakehe jisim, yangne esa iku ngibarat sipat napsiyah, akhadiyat yangne akhadiyat iku mertabat tungal ingaranan latakyun, tegese ora nyata, lan ora tertamtu, lan ingirana ULUHIAH lan ingaranan ing GAIBULGUYAH, lan ingaranan wujud, intlak lan itlak uwiyah, lan ingaranan KUN IKAK tegese jatining Allah Ta’alla, lan ingaranan dat, lan ingaranan sawegcane tegese ga’ib iku mahasuci, saking Muhammad kalawan sipat . Utawi asma lan apnal iku mapan durung nyata sawiji-wiji, ora ing kocap wujud lan baka lan liliyane pan durung nyata lan ora anduga ngakale wong, ing kun ikak, TEGESE kun inedat iku ora wineruhake, hiya ing sawiji-wiji, pon sakehe kawulane ora malaekate kang mukaroh, krana lamun katemu dening ngakal kun ikhak iku pada sirikh iya iku mukal. yangne tegese esa iku ngibarat sipat mangani yangne mertabat wadad iku ngibarat angwikani katungkulan ing dalem dewek, krana krana krana iku ana ing dalem dewek, angwikani sakehe kang maujudah, atas dadalan ijena, tegese saking satengahe, krana satuhune umpetan ing dalem ngelmune Alalah Ta’alla, kaya upeamane wita kayu, lan godhonge, matu meksi umpetan ana ing dalem Wiji, mangka ingarannan kurupul galiyah, kakekate Muhammadiyah Utawi basa su undattihi iku kalakuane asma lan sipat, den kalana rokaken saking dat, tegese kelerokaken ing jenenging kawula gusti mang jinulukkan ATRAPULGAEBATI, tegese bangsa atrapul gasbati iku wekasane pangucap. Yangne Esa iku ngibarat sipat maknawiyah, yangne mertabat wakidiyat, iku ngibarat tunggal, tegese Allah Ta’alla iku angwikani sakehe-kang maujut dat atas dedalane munpasil, tegese wus den pisahaken, ing satengahe kaya maklumat iku kaya bumi, lagi Bumune, kaya langit lagi langite, kaya manungsa lagi manungsa, kaya kewan lagi kewane, tetapi durung lahir makluke iku, mangka ingaranan makluke iku ana mertabat wa akidiyah iku ingaranan akyan sabitah, lan ingaranan kakekate manungsa, mangka kakekate akyan sabita iku ngelmu kakekate, ngelmu iku dat, mangka kakekate dat iku kunhi, ngalam arawah, yangne ngalam arwah iku murah, tegese pengandikne payakun iku iya jisim alus, ora tinemu dening pancadriya lahir kang lelima, iku kaya paningal, pangrungu, lan pangambu, lan pangrasane ilat, lan pengodokke awak iku ingaranan kangkate manungsa. mangka pacadriya batin iku piker lan cipta, lan micara kafal bana, nagleri misal yangne ngalam misal iku murah, Allahu iya iku jisim latip lan ora narima suku-suku lan ora narima tengah-tengah lan ora narima rusak. Mangka maksude cahya terang, lan awang-uwung, lan uwung-uwung, lan urube geni, lan kukuse, lan sapepadane, mengkono iku ingaranan ngalisal. Ngalam Ajesam, yangne ngalam Ajesam iku ngibarat saking ingkang narima susun, lan kandhel lan narima tengah-tengah, lan narima suku-suku, iya iku bumi langit lan liyane kang kagopok ing pancandriya lahir. Ngalam insan; yangne ngalam insan iku wekasane sakehe mertabat, tegese wekasane enggone nyata Allah Ta’alla, ana ing dalem insan, iya iku saking manungsa, mangka ingaranan kamil Muhammad, tegese manungsa kang sampurna, iya iku engone kumpul sakehe mertabat kang kang karuhun kang nenem kaya akadiyat lan wahadat lan wakidiyat lan ngalam arwah lan ngalam misal lan ngalam ajesam iku kumpul ana ing dalem insan, iya iku kang ketemu dene pancadriya lahir. Roh kudus Rohe Nami Muhammad ROH ILAPI Rohe para Nabi kabeh ROH NURANI Rohe para Wali ROH ROBANI Rohe para Mukmin ROH RAHMANI Rohe para Lanang ROH RUKANI Rohe wang Wadon ROH JASMANI Iku rohe kewan Kang mili getih roh kewan iku rohe mutakarik biliradat ROH RABATI iku Rohe kayu watu KAYAL Angen – angen ikulah- asale ngalam kabeh PIKIR Tetap iku pakumol ane malaikat Jabarail sadaya NGAKAL Pamicarane ati iku malaekat Jabarail WAHUM Cipta ati iku Malaekat Ngijrail. O AMAT Rupanning ati iku Mlaekat Israpil. O KALBI Ati Iku Malaikat Mikail. O Utawi mertabat akadiyah iku ora ana ambuka ing wong sawiji-wiji, pun ora ana ambuka nadyan para Nabi ingkang mursal, pun krana pangandika Kanjeng Nabi Sullallahu ngalaihi wasallam, tapakarupil ayati walata pakarupi datihi, tegese angen-angen sira kabeh, sipate Allah lan aja sira angen-angen ing DATe Allah, utawi sing sapa arep weruh ing KUN HIPATULLAH kaya lu…. Wong iku, mangka rinupak … wong iku, Yangne mertabat Akadiyah iku mertabat DATULLAHI, iku isarah KUNHIDAT, tegese, sejatine DATULLAH. mertabat iku Utawi mertabat utawi mertabat akadiyat iku ora ana Iku wujut mutlak lan DATON arane . Mangka ing mertabat iku aha suci, saking umur sirdha ing sipat-sipat lan nekatake krana ora ana malukne, saking mertabat ing mertabat utawi mertabat iku luwih luhur tinimbang saking mertabat malih ana ing luhur,. Utawi mertabat iku dat, KAKEKATULLAHI ING MERTABAT itlak dat tan ngilah iku ora kena angucapken sipat, utawi mertabat. Wahdat iku, mertabat sipat, kakekate Muchadiyah, naktu gaib arane KURUP GALIYATU, pon arane IJHAL MAKLUM pon arane pon arane NUR AWAL, pon arane, krana pangadikanan Kanjeng Nabi salalahu alaihi wusalam. AWALUMAKA BAKOLLAHU TA’ALLA NURI Tegese kang dinakakeu dening Allah Ta’alla : IKU NUR INGSUN Mangka Khaliq iku ana ing mertabat AMAKMAKADAR lan MAKNA BUDU RUL NGALAM pon arane, tegese wewinihe Ngalam Kabeh. utawi mertabat wahdat iku ngibarat ngelmune Allah Ta’alla ana ing dhewek, lan sakehe sipate lan sakehe ingkang maujud, iku atas dedalan IJEMAL lan IBHAM tegese durung beda- beda lan durung pisah, ana ing mertabat satengahe iku durung nyata, mangka ingaranan ROH ILAPI lan wujud NGALIM arane. Utawi mertabat akadiyat iku mertabat akadiyat iku mertabat asma Allah, utawi maratabat akadiyat iku mertabat AKYAN SABITAH iku sejatine asma kabeh, ana ingdalem ngelmu, mangka ora mambu kelawan ambuning wujud KARIJI tatapi kang nyata kang nyata iku lebete, lan kukume blaka, ingaranan AKYAN SABITAH hiya iku MAKLUMUL KALKU arane, lan ningaranan tartibul uluhi yan, lan ingaranan babaring wahdad, lan ingaranan TAPSIHULUL GAEBI, lan ingaranan TAPSILUL MAKLUMI, lan KAKETUL ASYAK krana satubuhe MANGKINATI lan KAKEKTYUL INSAN lan KAKETUL ASYAK krana satuhune Nabi salalahu ngalahi wusalam Adam iku nyata saking mertabat Utawi TAKYUNGAJI iku ana ing dalem mertabat DAT iya iku saking arah nyatane, Dat iku kelawan beda-beda, lan pisah-pisah, Mangka sakehe-sakehe beda lan pisah Iku ana ing mertabat wakidiyah, iya iku kang ijemal Hiya iku kang ijelma lan anham. Ana ing dalem mertabat wahdat, Hiya iku SU UNDAIYAH arane, Mangka mertabat wakidiyat iku Ngibarat saking ngelmune Allah Ta’alla Ana ing dalem Date lan sipate, lan akmahe Lan afngale lan sakehe kang maujud, iku Dedalan pisah-pisah lan dedalan kang beda- Beda, yangne andadekaken Allah Ta’alla ing Nur Muhammad iku Rohe sakehe para Nabi lan Andadekaken Allah Ta’alla ing Rohe para mukmin lan andadekakenAllah Ta’alla ing Rohe Jin lan Rohe Setan, iku saking rohe wong kapir, lan andadekaken Allah Ta’alla ing rohe kewan, saking rohe Jin lan rohe setan lan andadekaken Allah Ta’alla ing rohe thetukulan iku, saking rohe kewan, utawi anapun ujar iku saking arah. Takyinsani iku Dat, SIPAT ASMA ROH. Allahu tawinana maniroh iku patang ngelim Eroh, wujud, ngilmu, Nur, suhud, tandhane NYAWA DAT NGELMU ASMA AFNGAL Yangne ngalam arwah iku, bakdakun, tegese wujud kang nyata, ana ing mengkono iku anane, anane, lorone, yangne mertabat ngalam arwah iku mertabat afngal iya ilibas awal lan ingaran akyan karijiyah, lan ngakal pon harane, krana andikane Nabi SullAllahu ngali wasallam awaluma kalakullah Hu Ta’alla alngaklu, tegese wiwitane andadekaken Allah Ta’alla iku dene ngakal, mangka ana roh iku ajejuluk, wiwitane tumurun Dat iku saking mertabat kang wajib maring mertabat kang wajib maring mertabat kang Jiis, iya iku nyatane Dat, ingatase asyak, iku akyak kuniyah arane, dene arah kalimputan dening sabda Kun. Yangne mertabat ngalam kiyal lan ingaranan Ngalam manurI, lan ingaranan Ngalam Hubuli iya iku asale wujute ngalam iku kabeh, Mangka ngalam misal iku wiwitane rupane kang ana ing dalem pangayunane Allah Ta’alla, mangka ana ngalam misal iku tetep ana ing dalem ngilmune Allah, anglimputi sakehe rupa iku kabeh, iya iku kang ana ing dalem jasmani kabeh , kaya Bumi langit, ngaras kursi, loh kalam, suwarga naraka, lan liyano kabeh, iku wis podo ana ing dalem misal. Yangne mertabat ngalam misal iku meksih latin lan ngalam ghaib, kaya upamane sungging sadurunge metokake sungginge ana ing dalem papan iya iku wis nyata, lan wis tetela sagelare sungging iku ana ing dalem papan, iku ana ing ngalam misal iku kinaweruhan lan wus maujut lan wus nyata, lan wus apisah-pisah kelawan rupane, ora ana kahanane iya ikulah ngalam misal, ora ana narimah pejah lan mbesuk, krana dene meksih latip, yangne mikrat iku tertentu ing Nabi SullAllahu ngalaihi Wasallam, tetapi umat iku ana uga mikraje, kalo ora padha kaya lamun mikraje manungsa, iku nepsune saking Bumi maring langit, sirna mikraje manungsa iku. Yangne ngalam ajesam iku alam Sahadat arane, tegese Asyak iku ana ing dalem ngalam Ajesam, iku wus nyata lan wus tetela, kelawan pancadriya kang lahir, lan wus narima ing pejah, lan wuwuh, lan ing besuk, krana wus sinusun kelawan ngana sir ing kang papat, mangka iya iku beda-beda watake wajiblah anak-anak iku arep ngaweruhana ingkang ajesam iku jasat, lan jasat iku rupane, iya ikulah ingaranan SAHWAT BASARIYAH arane, sing sapa ketungkul ing rupa iku dadi kabelenggu dening watake, basariyah arane, wong iku sayogyane, wong iku Nabi, agawe apa pakartining roh saking arah langgenge A… Utawi yangne ngawikanana denira setuhune ngalam Ajesam iku wewayangane Akyansahitah, iku wewayangane Asma, iku wewayangane sipat-sipat, iku wewayangane Dat. Yangne Takyun sadis iku mertabat kang angumpulaken ing Lulman lan puruni wahdat lan Hakidiyat ingaranan Adam maknawi iku sadurunge ana jagad iku kabeh, Nabi jinulukan yayah ing nyawa kabeh, lan Nabi Adam iku jinulukan jisim iku kabeh. Lan tatkala ana takyun kahanan kita ingaranan AKYAN SATUHU Tegese kenyatahaning kang tetep ing dalem ngelmu KaK, iya iku kang ingaranan MAKDAHUM AKADIYAT tegese wus pesthi kahanane kita, iku ana ing dalem ngelmu Ndat lane lan resike, lan tetkala kahanan kita ana ing dalem mertabat salin ingaranan ngalam Arwah, arah den jinem nyawa ana ing dalem badan kita iku, ana ing dalem palakane sebyang lan tetkala ana ing dalem takyun ra’i karana kita iku ingaranan ngalam misal, krana ingaranan disolarah yen wus kahangkanan nyawa kabeh ora ana ingkang kaliwatan tetkala ana ing TAKYUN SADIS, mangka kahanan kita iku ingaranan ngalam Ajesam. Mulane ingaran ngalam akhir dene wus nenek moyange jasad kabeh. Lan tetkala ana ing TAKYUN SADIS, mangka ingaranan kahanan kita iku TAKLAYATUN arane. Kang ingaranan INSAN KAMIL arah Wus den sempurnakake ing jenenge Hawa Adam saking Allah insane kamilsaking kitab INSAN KAMIL.

    Google+ Followers

    Berlangganan Artikel Jowoblogs lewat Email, Monggo Sedulur Nglebetne Email Wonten Mriki:

     
     
    Copyright © jowo blogs
    about us - contact - privacy - site map